Jakarta (Tutur.co.id) – Pakar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana menganggap tawaran Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik Iran kontra Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai langkah terlalu dini. Hal itu mengingat kedua belah pihak masih pede bakal “menang”.
“Mediator itu dibutuhkan saat perang sudah lama, saat budget dan peralatan serta bantuan berkurang.Jadi mereka tidak akan dengan tiba-tiba menyerah karena akan dianggap kalah,” kata Hikmahanto Juwana dalam podcast Bang Don Super Opini.
Menurut Hikmahanto, biasanya usulan menjadi mediator ini akan diterima jika salah satu pihak merasa akan mengalami kekalahan. “Karena mediator itu dibutuhkan untuk menyelamatkan muka dan biasanya ada pihak ketiga yang menawarkan diri,” kata Hikmahanto.
Karena itu, menurut Hikmahanto Juwana, langkah Prabowo yang mengajukan diri dalam konflik di Kawasan Teluk itu dianggapnya sebagai langkah yang buru-buru dan terancam bakal dicuekin kedua belah pihak yang berkonflik.
“Namanya mediator itu kan tidak berpihak. Nah kemarin (Indonesia) mengutuk dan itu sudah berpihak dong. Nanti Amerika Serikat akan bilang kamu bukannya mengutuk kami kok jadi mediator,” kata Hikmahanto Juwana.
Tak hanya dari sisi Israel dan AS, niatan Presiden Prabowo tentu juga akan dicuekin Iran. Pasalnya, Iran saat ini masih menganggap Indonesia tidak tegas dalam bersikap, terutama terkait pelanggaran pasal 4 ayat 2 Piagam PBB. Dengan kata lain, syarat ‘jebakan’ ini harus dipenuhi Prabowo sebelum diterima Iran.
“Iran pasti akan mengatakan kami akan terima tawaran dari Presiden Prabowo tapi syaratnya satu, bersikap dulu siapa negara yang dimaksud telah melanggar pasal 2 ayat 4 piagam PBB,” kata Hikmhanto Juwana.
Untuk menonton secara lengkap Bang Don Super Opini dengan bintang tamu Hikmahanto Juwana dapat mengunjungi Tutur TV atau klik di sini.

