Texas (Tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan akibat tingginya harga tiket yang dinilai memberatkan sebagian besar suporter. Di tengah klaim FIFA mengenai besarnya minat publik terhadap turnamen ini, sejumlah pertandingan justru masih menyisakan banyak kursi yang belum terjual.
Perhatian terbaru tertuju pada laga pembuka Grup Inggris melawan Kroasia yang akan digelar pekan depan di Texas. Sebagian tiket untuk pertandingan tersebut masih tersedia, baik melalui platform resmi FIFA maupun situs penjualan kembali.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap FIFA yang sejak awal mendapat kritik karena kebijakan harga tiket yang dianggap membuat banyak penggemar sepak bola kesulitan menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.
Meski FIFA berulang kali menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket, fakta di lapangan menunjukkan sejumlah pertandingan masih memiliki kursi kosong.
Salah satu contohnya adalah laga Inggris kontra Kroasia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu mendatang di Texas. Hingga beberapa hari sebelum pertandingan, ratusan tiket masih tersedia di berbagai platform penjualan.
Harga tiket termurah untuk pertandingan tersebut mencapai 867 dolar AS atau sekitar 648 poundsterling. Sementara itu, paket premium termahal dijual hingga 9.225 dolar AS atau sekitar 6.900 poundsterling, termasuk akses lounge VIP dan layanan makanan eksklusif.
Di situs resmi FIFA, tiket kategori hospitality juga masih tersedia dengan harga berkisar antara 2.430 dolar AS hingga 3.150 dolar AS.
Selain pertandingan Inggris melawan Kroasia, tiket untuk laga grup lainnya juga masih dipasarkan dengan harga tinggi. Tiket pertandingan Inggris kontra Ghana di Boston dijual kembali mulai dari 423 poundsterling hingga 4.354 poundsterling. Sementara itu, tiket laga Inggris melawan Panama ditawarkan dalam kisaran 513 poundsterling hingga 6.678 poundsterling.
Menghadapi kritik yang terus bermunculan, FIFA sebelumnya telah melakukan penyesuaian harga pada sejumlah pertandingan guna mendorong lebih banyak suporter hadir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun demikian, perdebatan mengenai mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026 belum juga mereda.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa rata-rata harga tiket sebenarnya berada di bawah 500 dolar AS. Menurutnya, harga tersebut masih sejalan dengan biaya menghadiri berbagai ajang olahraga besar lainnya di Amerika Utara.
“Jika dijual dengan harga yang lebih rendah, di pasar ini tiket tersebut akan berpindah tangan secara legal ke pasar sekunder dengan harga yang jauh, jauh, jauh lebih tinggi. Lalu ke mana uang itu akan pergi?” kata Infantino.
“Ya, kepada pihak yang mengelola pasar sekunder atau aktivitas pasar gelap, bukan kepada sepak bola.”
“Jika kami melakukan sesuatu yang salah, maka mungkin semua pihak yang menjual tiket di Amerika Utara juga melakukan hal yang salah,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi FIFA yang meyakini harga tinggi diperlukan untuk menekan praktik spekulasi dan penjualan kembali tiket dengan harga yang lebih mahal di pasar sekunder.
Kontroversi harga tiket semakin menguat setelah pertandingan Korea Selatan melawan Ceko di Guadalajara memperlihatkan sejumlah area stadion yang tampak kosong.
FIFA sebelumnya mengumumkan jumlah penonton pertandingan tersebut mencapai 44.985 orang dari total kapasitas stadion sebanyak 45.664 kursi. Namun tayangan televisi menunjukkan masih terdapat sejumlah kursi kosong yang cukup mencolok, terutama di area VIP.
Situasi tersebut memicu kembali pertanyaan mengenai efektivitas strategi penetapan harga tiket yang diterapkan FIFA sepanjang turnamen.
Laporan Financial Times bahkan menyebut hampir 180 ribu tiket fase grup masih tersedia di platform penjualan kembali resmi. Untuk laga pembuka tuan rumah Amerika Serikat melawan Paraguay, sekitar 4.400 tiket masih tercatat tersedia pada Sabtu pagi waktu GMT.
Harga tiket termurah yang dijual langsung oleh FIFA untuk pertandingan tersebut mencapai 1.120 dolar AS atau sekitar 838 poundsterling. Sementara itu, sejumlah pertandingan fase grup yang kurang diminati tetap dipasarkan dengan harga lebih dari 300 dolar AS, belum termasuk biaya perjalanan, penginapan, dan kebutuhan lain selama berada di Amerika Utara.
