California (Tutur.co.id) – FIFA menghadapi gugatan hukum terkait kebijakan yang melarang suporter membawa bendera Iran pra-revolusi ke stadion-stadion Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat. Gugatan yang diajukan di California itu menyoroti batas antara aturan penyelenggaraan turnamen dan hak kebebasan berekspresi.
Perselisihan berpusat pada bendera Iran bergambar singa dan matahari yang digunakan sebelum Revolusi Iran 1979. Meski simbol tersebut masih digunakan oleh sebagian diaspora Iran di berbagai negara, FIFA menganggapnya sebagai simbol yang bermuatan politik.
Kasus ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi penerapan aturan di stadion-stadion Piala Dunia 2026. FIFA kini berpeluang memberikan tanggapan resmi terhadap gugatan yang diajukan menjelang turnamen tersebut.
Institute for Voices of Liberty Resmi Ajukan Gugatan
Institute for Voices of Liberty, organisasi nirlaba berbasis di California yang mengklaim berfokus pada perlindungan kebebasan berekspresi bagi warga Iran, sebelumnya telah memperingatkan FIFA mengenai kemungkinan langkah hukum.
Ancaman tersebut direalisasikan pada Kamis ketika organisasi itu mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Los Angeles County. Dalam dokumen gugatan, mereka menegaskan bahwa penggunaan bendera Iran pra-revolusi merupakan bentuk ekspresi simbolik dan politik yang dilindungi hukum.
Melalui gugatan tersebut, kelompok itu meminta pengadilan menyatakan bahwa pelarangan bendera tersebut tidak sah di California. Mereka juga menuntut agar suporter diizinkan membawa simbol tersebut ke dalam stadion Piala Dunia serta meminta FIFA memberikan kompensasi kepada pihak yang ditolak masuk karena membawa bendera itu.
Direktur Institute for Voices of Liberty, Sam Kermanian, menyatakan dalam gugatan bahwa dirinya berencana membawa bendera pra-revolusi tersebut ke pertandingan yang digelar di SoFi Stadium, Los Angeles, dan Levi’s Stadium, Santa Clara.
Menurut Kermanian, perlindungan kebebasan berbicara dalam Konstitusi California dapat diterapkan karena venue Piala Dunia berfungsi sebagai ruang publik yang terbuka bagi masyarakat umum.
FIFA Nilai Bendera Tersebut Bermuatan Politik
Ketika ditanya bulan lalu mengenai kemungkinan diperbolehkannya bendera tersebut di stadion, FIFA tidak memberikan jawaban spesifik. Organisasi sepak bola dunia itu hanya merujuk pada daftar barang yang dilarang masuk ke venue pertandingan.
Dalam aturan tersebut, FIFA melarang berbagai materi yang dianggap bersifat politik, ofensif, atau diskriminatif. Larangan itu mencakup spanduk, bendera, selebaran, pakaian, hingga berbagai atribut lain yang memuat simbol atau pesan tertentu.
Menurut sumber internal FIFA yang mengetahui posisi organisasi tersebut, bendera Iran pra-revolusi dikategorikan sebagai simbol politik. Namun hingga kini FIFA belum menjelaskan secara rinci aturan yang menjadi dasar pelarangan maupun mekanisme penerapannya oleh petugas keamanan di stadion.
Situasi serupa pernah terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, sejumlah suporter diminta menyerahkan bendera tersebut saat pemeriksaan keamanan, meskipun beberapa penonton lainnya tetap diizinkan membawanya masuk ke stadion.
Kontroversi Simbol Politik Kembali Menyeret FIFA
Federasi Sepak Bola Iran sebelumnya juga menyampaikan sejumlah permintaan kepada FIFA guna memastikan partisipasi tim nasional mereka di Piala Dunia. Salah satu tuntutan yang diajukan adalah penghormatan terhadap bendera Iran serta peningkatan pengamanan di lokasi yang akan dikunjungi tim.
Kontroversi ini muncul di tengah situasi geopolitik yang masih sensitif setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal tahun ini.
Di saat yang sama, FIFA juga menghadapi polemik lain terkait unsur simbolik dalam ajang internasional. Awal pekan ini, badan sepak bola dunia tersebut meminta Haiti mengubah desain kostum tim nasionalnya karena menampilkan sosok pemberontak yang mengangkat bendera Haiti dalam Pertempuran Vertières. FIFA menilai elemen tersebut mengandung pesan politik.
Padahal, Revolusi Haiti yang berlangsung lebih dari dua abad lalu dikenal sebagai satu-satunya revolusi budak yang berhasil dalam sejarah dan menjadi fondasi lahirnya negara yang dipimpin oleh mantan budak.
Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terbaru terkait gugatan hukum mengenai bendera Iran pra-revolusi maupun kontroversi seragam Haiti.

