Teheran (Tutur.co.id) – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz menyusul serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu 28 Februari 2026. Hal ini tentu menjadi petaka dunia mengingat Selat Hormuz sangat vital bagi perdagangan dunia.
Ya penutupan Selat Hormuz berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi pasar energi global. Dan seperti yang dilaporkan ANHA Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akhirnya mengambil langkah yang akan membuat dunia terguncang.
Penutupan Selat Hormuz ini juga telah diumumkan IRGC lewat saluran radio berulang kali. Tak ada satupun kapal tanker yang diizinkan melintasi selat tersebut. Dari pantauan Marine Traffic, beberapa kapal kini tengah meninggalkan selat setelah keluarnya peringatan dari Iran.
Selat Hormuz adalah titik rawan minyak paling penting di dunia, dengan sekitar 20% pasokan minyak global melewatinya setiap hari. Dari data sepanjang 2025 lalu, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati selat tersebut atau mencakup 31 persen pasokan minyak mentah global yang melewati jalur laut.
Penutupan tersebut, jika berlanjut, akan memutus ekspor dari Arab Saudi, UEA, Kuwait, Irak, dan Qatar, yang saat ini tercatat sebagai penyumbang terbesar produksi minyak global.
Pasar minyak sendiri telah bergerak naik pada hari ini seiring dengan meluasnya pertempuran di Timur Tengah. Minyak mentah Brent telah naik menjadi $71,41 per barel pada perdagangan sebelumnya.

