Manchester (tutur.co.id) – Pelatih Pep Guardiola menanggapi kritik yang muncul setelah kekalahan telak Manchester City dari Real Madrid pada leg pertama babak 16 besar UEFA Champions League. Menurutnya, penilaian terhadap keputusan pelatih dalam menentukan susunan pemain sering kali hanya ditentukan oleh hasil akhir pertandingan.
Manchester City sebelumnya mencatatkan performa impresif dengan rekor 11 pertandingan tak terkalahkan di semua kompetisi. Namun, tren positif tersebut terhenti setelah mereka kalah 3-0 dari Real Madrid di Stadion Santiago Bernabéu Stadium pada laga yang berlangsung Rabu lalu.
Kekalahan tersebut memicu kritik dari sebagian suporter terhadap keputusan taktik Guardiola, termasuk pemilihan pemain dalam susunan awal tim.
Keputusan Taktik Jadi Sorotan
Dalam pertandingan tersebut, Pep Guardiola membuat sejumlah perubahan yang cukup mengejutkan. Ia memasang Bernardo Silva dan Rodri sebagai duet gelandang, serta menempatkan Nico O’Reilly sebagai bek kiri meski posisi alaminya di lini tengah.
Keputusan lain yang memicu perdebatan adalah mencadangkan pemain yang sebelumnya tampil baik di posisi bek sayap, seperti Matheus Nunes dan Rayan Aït-Nouri. Posisi tersebut justru diisi oleh Abdukodir Khusanov, yang dipilih untuk meredam ancaman dari winger Real Madrid Vinícius Júnior.
Sementara itu, winger Savinho mendapat kesempatan sebagai starter meski baru pulih dari cedera dan jarang tampil dalam beberapa pekan terakhir. Ia bermain bersama Jérémy Doku dan Antoine Semenyo di lini serang.
Beberapa pemain penting seperti Phil Foden, Rayan Cherki, dan Omar Marmoush justru memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Guardiola: Hasil Menentukan Penilaian
Menjelang pertandingan Premier League melawan West Ham United, Guardiola menegaskan bahwa kritik terhadap susunan pemain adalah hal yang biasa dalam sepak bola.
Ia menyebut bahwa keputusan pelatih sering dianggap benar ketika tim menang, tetapi langsung dipertanyakan ketika hasilnya negatif.
Guardiola juga mengakui bahwa dirinya selalu mengevaluasi setiap keputusan taktik yang diambil, termasuk saat menghadapi Real Madrid. Menurutnya, dalam 20 menit awal pertandingan di Madrid, timnya sebenarnya tampil sangat baik dan mampu memberikan ancaman kepada lawan.
Namun momentum berubah setelah kebobolan gol pertama, yang kemudian memengaruhi emosi permainan tim.
Fokus Bangkit di Leg Kedua
Kekalahan di Madrid membuat Manchester City harus mengejar defisit besar pada leg kedua yang akan digelar di Etihad Stadium. Guardiola menegaskan bahwa fokus utama timnya adalah memenangkan pertandingan dan mencetak gol lebih dulu untuk membuka peluang comeback.
Ia menilai bahwa dalam laga besar seperti Liga Champions, strategi sering kali berubah sesuai dinamika pertandingan di lapangan.
Haaland Dipastikan Siap Bermain
Di tengah tekanan setelah kekalahan tersebut, Guardiola membawa kabar baik terkait kondisi striker utama Erling Haaland. Penyerang asal Norwegia itu dipastikan telah pulih dan siap kembali bermain setelah sempat absen dalam dua dari empat pertandingan terakhir Manchester City.
Sementara itu, beberapa pemain masih dalam proses pemulihan cedera, termasuk Joško Gvardiol, Mateo Kovačić, dan Rico Lewis. Dari ketiganya, Gvardiol diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke lapangan.
Persaingan Ketat di Liga Inggris
Saat ini Manchester City menempati posisi kedua klasemen Premier League dan tertinggal tujuh poin dari pemuncak klasemen Arsenal, meski Arsenal telah memainkan satu pertandingan lebih banyak.
Meski mengalami kekalahan di Liga Champions, Guardiola tetap mendapat pengakuan atas performa timnya setelah dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Premier League bulan Februari. Di saat yang sama, pemain City Antoine Semenyo juga meraih penghargaan Pemain Terbaik Bulan Ini.
Dengan jadwal padat dan persaingan ketat di berbagai kompetisi, Manchester City kini menghadapi tantangan besar untuk bangkit sekaligus menjaga peluang meraih trofi musim ini. (sas)

