Surabaya (tutur.co.id) – Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengintensifkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah strategis menekan harga bahan pokok sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Salah satu pelaksanaan GPM digelar di Lapangan Asemrowo, Jalan Asem Raya Nomor 19, Kelurahan Asemrowo, Selasa (10/2/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Sejak pagi, warga tampak memadati lokasi untuk mendapatkan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, gula, cabai, hingga daging dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan pasar.
Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan bahwa GPM menjadi salah satu instrumen penting Pemkot Surabaya dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang Ramadan yang umumnya diiringi peningkatan permintaan kebutuhan pokok.
Menurut Antiek, selain membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, GPM juga berperan dalam pengendalian inflasi daerah serta penguatan ketahanan pangan di Kota Surabaya.
Pemilihan Kecamatan Asemrowo sebagai lokasi GPM dilakukan karena wilayah tersebut belum pernah menjadi lokasi pelaksanaan program serupa. Dalam kegiatan ini, sejumlah komoditas tercatat habis terjual, di antaranya beras sekitar 200 zak, minyak goreng sebanyak 1.200 liter, dan gula pasir sekitar 240 kilogram. Untuk komoditas daging, total nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,5 juta.
Berbagai komoditas pangan strategis dijual dengan harga di bawah pasaran. Beras SPHP kemasan 5 kilogram dipasarkan seharga Rp58.000 per zak, beras Yarice Rp74.500 per zak, dan beras Kembang Desa Rp73.000 per zak. Gula pasir dijual dengan kisaran harga Rp16.500 hingga Rp17.500 per kilogram.
Minyak goreng menjadi komoditas yang paling banyak diminati warga. Minyak Moorah kemasan 700 mililiter dijual Rp14.000 per botol, sementara Minyakita dijual Rp15.000 per liter. Selain itu, tersedia daging ayam ras seharga Rp35.500 per kilogram dan telur ayam ras Rp29.500 per kilogram.
Pelaksanaan GPM juga melibatkan sejumlah pihak, antara lain Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (PD RPH) yang menyediakan daging sapi segar dan produk olahannya. Pelaku usaha dari Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PISS) turut menyediakan bawang merah, bawang putih, dan cabai dalam kemasan. Sementara itu, Program Padat Karya Pemberdayaan Keluarga Miskin menghadirkan telur ayam, serta Kelompok Tani Guyub Sejahtera menyediakan aneka sayuran segar.
Antiek menambahkan, sepanjang tahun 2026 Pemkot Surabaya berkomitmen memperluas pelaksanaan GPM serta Pasar Murah Dinkopumdag. Dalam satu bulan, program tersebut ditargetkan menjangkau seluruh kecamatan dengan frekuensi pelaksanaan mencapai 18 hingga 20 kali.
Pemkot Surabaya juga memastikan koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan perangkat daerah terkait terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan memastikan keterjangkauan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Dari sisi warga, keberadaan GPM dinilai sangat membantu. Suparma, warga Asemrowo, mengaku sengaja datang sejak pagi untuk membeli beras dan minyak goreng karena selisih harga yang cukup signifikan dibandingkan pasar. Hal serupa dirasakan Luluk, warga lainnya, yang memanfaatkan GPM untuk membeli kebutuhan pokok sebagai persiapan Ramadan.
Warga lainnya, Mona Joda, juga merasakan manfaat GPM, terutama untuk komoditas bawang dan cabai yang dijual dengan harga lebih murah dari pasaran. Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin agar masyarakat semakin terbantu dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Melalui intensifikasi Gerakan Pangan Murah, Pemkot Surabaya berharap masyarakat dapat menghadapi Ramadan dengan lebih tenang, tanpa terbebani lonjakan harga bahan pokok, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. (sas)

