Vatikan (tutur.co.id) — Paus Leo XIV menegaskan pentingnya peran media dalam membangun perdamaian global melalui penyampaian informasi yang bebas, akurat, dan beretika. Pesan tersebut disampaikan kepada jaringan televisi Italia Tgcom24 dalam rangka peringatan 25 tahun berdirinya, seperti dilaporkan Vatican News.
Dalam pesannya, Sri Paus menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia media saat ini, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dipenuhi “kata-kata yang terlalu sering diteriakkan di dunia maya.”
Menurut Paus asal Amerika Serikat ini, kondisi ini menuntut media untuk kembali pada misi utamanya: membangun dialog yang sehat dan memperkuat pemahaman antarmanusia.
Ia menekankan bahwa jurnalisme tidak boleh berhenti pada penyajian fakta di permukaan, tetapi harus mampu menghadirkan narasi yang lebih dalam—dengan rasa hormat, empati, dan solidaritas, terutama terhadap mereka yang berada dalam kondisi rentan.
Media sebagai Jembatan Dialog
Paus Leo XIV menilai media memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi jembatan dialog di tengah polarisasi yang kian tajam. Informasi yang disampaikan secara bijak dapat membantu masyarakat memahami perbedaan, bukan justru memperlebar jurang konflik.
Menurutnya, pendekatan yang berlandaskan empati akan mendorong terciptanya komunikasi yang lebih manusiawi dan inklusif.
Lawan Hoaks dengan Etika dan Kebenaran
Dalam pesannya, Paus juga menyoroti ancaman serius dari penyebaran berita palsu (hoaks). Ia mengingatkan bahwa media harus menjunjung tinggi kebenaran serta memiliki tanggung jawab etis yang kuat dalam setiap informasi yang disampaikan.
Upaya melawan disinformasi, kata dia, menjadi bagian penting dalam membangun “budaya perjumpaan” yang mampu menyatukan berbagai kelompok dalam masyarakat.
Informasi sebagai Jalan Menuju Perdamaian
Lebih jauh, Paus Leo XIV menyampaikan bahwa informasi yang bebas dan beretika bukan sekadar kebutuhan demokrasi, tetapi juga merupakan instrumen penting dalam menciptakan perdamaian dunia.
Ia menegaskan bahwa jurnalisme yang menjunjung tinggi martabat manusia dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun “perdamaian tanpa senjata” yang berkelanjutan.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa di tengah era disrupsi digital, kualitas informasi yang disampaikan media memiliki dampak nyata—bukan hanya terhadap opini publik, tetapi juga terhadap stabilitas dan harmoni global.

