Surabaya (tutur.co.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem selama periode arus mudik dan balik Lebaran 2026. Salah satu strategi yang disiapkan adalah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca guna menekan kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi.
Langkah tersebut dikoordinasikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur sebagai bagian dari upaya menjaga kelancaran mobilitas masyarakat selama masa libur Idulfitri.
Operasi Modifikasi Cuaca Selama Periode Mudik
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa rencana tersebut merupakan hasil koordinasi lintas lembaga dalam rapat kesiapsiagaan pengamanan arus mudik.
Rapat tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan dari Kepolisian Daerah Jawa Timur serta sejumlah instansi teknis terkait.
Menurut Gatot, pemerintah daerah perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya curah hujan tinggi karena musim hujan masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Sebagai langkah mitigasi, operasi modifikasi cuaca direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai 16 Maret hingga 26 Maret 2026. Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan arus balik Lebaran.
Upaya ini dilakukan untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang dapat mengganggu perjalanan masyarakat.
Jalur Selatan Jatim Jadi Titik Perhatian
BPBD Jawa Timur juga telah memetakan sejumlah wilayah yang dinilai memiliki risiko bencana lebih tinggi selama musim mudik.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah jalur selatan provinsi yang memiliki banyak daerah perbukitan. Kondisi geografis tersebut meningkatkan potensi longsor, terutama jika curah hujan tinggi terjadi dalam waktu lama.
Selain itu, beberapa wilayah yang selama ini dikenal rawan banjir juga masuk dalam daftar pemantauan intensif, di antaranya Lamongan, Pasuruan, dan Probolinggo.
Daerah-daerah tersebut dinilai perlu mendapat perhatian khusus agar hujan dengan intensitas tinggi tidak memicu banjir yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat selama Lebaran.
Kawasan Wisata Juga Dipantau
Selain jalur transportasi utama, kawasan wisata di Jawa Timur juga masuk dalam radar pengawasan pemerintah daerah. Hal ini karena destinasi wisata biasanya mengalami lonjakan kunjungan selama libur Lebaran.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, potensi risiko bencana seperti longsor maupun banjir perlu diantisipasi sejak dini untuk memastikan keselamatan pengunjung.
Skenario Penanganan Darurat Disiapkan
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, BPBD Jawa Timur juga menyiapkan skenario penanganan darurat jika terjadi bencana selama periode mudik.
Koordinasi telah dilakukan dengan berbagai instansi teknis, termasuk balai pelaksana jalan nasional dan dinas pekerjaan umum, guna memastikan alat berat dapat segera diterjunkan jika terjadi longsor di jalur transportasi.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah penanganan jika terjadi kerusakan infrastruktur pengairan seperti tanggul jebol yang dapat memicu banjir.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi sisa musim hujan agar perjalanan masyarakat selama mudik Lebaran dapat berlangsung aman dan lancar.
Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, pemerintah daerah berharap potensi gangguan cuaca ekstrem selama periode mudik dapat diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman. (sas)

