Jakarta (Tutur.co.id)— Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menegaskan bahwa media memiliki posisi strategis dalam menjaga kebenaran, mengawasi kekuasaan, serta mendorong pembangunan peradaban berbasis HAM. Bahkan pers menurutnya berada di atas negara.
Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa pers bukan sekadar penyampai informasi, melainkan salah satu pilar utama demokrasi. Menurut Pigai, kekuatan media sangat besar dalam membangun kesadaran publik mengenai nilai-nilai hak asasi manusia.
“Pers itu kekuatannya di atas negara. Kita belajar teori Montesquieu, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan sekarang korporatif. Keempatnya dikontrol oleh pers. Pers adalah real power, absolute power,” jelas Pigai dalam acara Kick Off dan Peluncuran Program Media Pers dan Pembangunan Peradaban HAM yang digelar di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2026.
Pigai juga menilai media memiliki tanggung jawab moral untuk berani membuka berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Isu-isu sensitif seperti kemiskinan, pengangguran, hingga masalah kesehatan masyarakat harus tetap menjadi perhatian publik.
“Media juga harus berani mengungkap fakta adanya patologi-patologi sosial. Tentang kematian ibu, kematian anak, kemiskinan, pengangguran, tidak masalah dibuka,” kata Natalius Pigai.
Namun demikian, ia juga mengingatkan agar pemberitaan tidak berhenti pada pengungkapan masalah semata. Media diharapkan mampu menghadirkan perspektif solusi serta memberikan edukasi kepada masyarakat. Pendekatan init dianggap penting agar informasi yang beredar tidak hanya menimbulkan kecemasan, tetapi juga mendorong perubahan positif dalam kehidupan sosial.
Dorong Kolaborasi untuk Peradaban HAM
Melalui program yang diluncurkan tersebut, pemerintah berharap media dapat berperan lebih aktif dalam membangun kesadaran publik mengenai nilai-nilai HAM.
Pers dinilai mampu menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah, sekaligus ruang diskusi publik untuk memperkuat demokrasi di Indonesia.
Dengan peran strategis tersebut, media diharapkan tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial yang berlandaskan nilai kemanusiaan.

