Teheran (tutur.co.id) – Iran mengutuk keras serangan militer Amerika Serikat di dekat Bandar Abbas, Iran selatan, dan menuduh Washington kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak April lalu. Ketegangan terbaru ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan yang terjadi pada Kamis dini hari itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Dewan Keamanan PBB memiliki tanggung jawab untuk meminta pertanggungjawaban Amerika Serikat atas tindakan yang dinilai melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Iran.
Baghaei juga menuding Washington terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April 2026. Ia menyinggung sejumlah insiden sebelumnya, termasuk serangan terhadap kapal dagang di kawasan Teluk dan serangan udara terbaru di wilayah Iran selatan.
Menurut Baghaei, Iran akan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mempertahankan kedaulatan negaranya sesuai Pasal 51 Piagam PBB yang mengatur hak membela diri.
“Iran akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya,” ujar Baghaei seperti dikutip media Anadolu.
Selain mengecam tindakan militer AS, Iran juga mengkritik pernyataan sejumlah pejabat Amerika yang dinilai bernada mengancam terhadap negara-negara kawasan, termasuk Oman yang selama ini berperan dalam mediasi diplomatik dan upaya perdamaian regional.
Baghaei menilai ancaman terhadap negara anggota PBB seperti Oman merupakan bentuk normalisasi intimidasi dalam hubungan internasional yang dapat memperburuk situasi kawasan.
Sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Anadolu bahwa militer AS telah menembak jatuh empat drone Iran di dekat Selat Hormuz dan menyerang stasiun kontrol darat Iran di Bandar Abbas yang disebut sedang mempersiapkan peluncuran drone tambahan. Pemerintah AS menyebut operasi tersebut bersifat “terukur” dan “murni defensif” guna mempertahankan gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Sebagai respons atas serangan itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat di Kuwait. Iran menyebut serangan balasan tersebut dilakukan beberapa jam setelah proyektil udara AS menghantam wilayah dekat Bandara Bandar Abbas.
Ketegangan terbaru ini terjadi di tengah upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan lebih luas pascaperang yang pecah pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang kemudian dibalas Teheran melalui serangan drone dan rudal di kawasan regional.
Konflik tersebut sempat memicu penutupan Selat Hormuz dan mengganggu jalur perdagangan internasional. Gencatan senjata akhirnya diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, meski hingga kini belum menghasilkan penyelesaian permanen.

