Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat (13/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi memicu tekanan inflasi global.
Sentimen negatif tersebut terutama datang dari pelemahan indeks saham di Wall Street, yang terjadi setelah harga minyak mentah melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
“IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 7.265–7.170 dan resistance 7.460–7.555,” tulis analis CGS International Sekuritas Indonesia dalam riset hariannya, Jumat (13/3/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, indeks utama di Wall Street ditutup melemah karena investor mencermati lonjakan harga minyak mentah yang dipicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global setelah Selat Hormuz ditutup.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak 9,72% ke level US$95,73 per barel, sementara minyak Brent Crude Oil naik 9,22% menjadi US$100,46 per barel. Kenaikan ini menandai pertama kalinya harga Brent kembali ditutup di atas US$100 per barel sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang terpilih pada 9 Maret lalu, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai langkah tekanan terhadap negara-negara lawan.
Di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan bahwa Angkatan Laut AS saat ini belum siap untuk memberikan pengawalan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Rencana pengawalan tersebut kemungkinan baru akan direalisasikan pada akhir bulan ini.
Situasi geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global sekaligus potensi lonjakan inflasi yang dapat menekan pasar keuangan.
Di tengah kondisi pasar yang cenderung tertekan, analis CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk strategi trading jangka pendek, yakni ESSA Industries Indonesia Tbk, Medco Energi Internasional Tbk, Perusahaan Gas Negara Tbk, AKR Corporindo Tbk, Adaro Energy Indonesia Tbk, serta Adaro Andalan Indonesia Tbk.
Saham-saham di sektor energi dinilai masih berpotensi menarik perhatian investor seiring kenaikan harga komoditas minyak dan energi global.

