Barcelona (tutur.co.id) – Sepanjang 2025, lebih dari 1,2 miliar orang terdampak pemadaman listrik besar di berbagai belahan dunia. Di tengah krisis pasokan energi dan dorongan menuju netralitas karbon, Huawei menilai otomatisasi saja tak lagi cukup. Kecerdasan buatan dan digitalisasi kini menjadi tulang punggung baru modernisasi jaringan listrik global.
Lonjakan pemadaman listrik besar sepanjang 2025 menjadi alarm keras bagi industri ketenagalistrikan dunia. Lebih dari 10 gangguan masif tercatat mengacaukan pasokan listrik lintas negara, menyingkap rapuhnya sistem tenaga di tengah percepatan energi terbarukan dan elektrifikasi. Stabilitas masih menjadi prioritas utama perusahaan listrik global, namun tantangan kini jauh lebih kompleks: integrasi energi hijau berskala besar dan beban listrik yang makin sulit diprediksi.
Dalam lanskap tersebut, Huawei menempatkan otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI) sebagai poros utama transformasi jaringan listrik masa depan. Jason Li, Presiden Huawei Marketing & Solution Sales Department untuk Unit Bisnis Digitalisasi Tenaga Listrik, menegaskan bahwa peran jaringan listrik tengah mengalami pergeseran fundamental.
“Di masa depan, jaringan listrik tidak lagi sekadar sistem transmisi. Ia akan menjadi elemen kunci dalam transisi energi,” ujar Jason Li dalam keterangan resmi Kamis (22/1). Menurut dia, digitalisasi dan AI telah beralih dari sekadar peningkatan opsional menjadi komponen esensial dalam pembangkitan dan distribusi tenaga listrik inti.
Selama ini, otomatisasi dimanfaatkan terutama untuk merespons gangguan jaringan. Namun, dengan masuknya pembangkit listrik tenaga surya terdistribusi, sistem penyimpanan energi, serta infrastruktur pengisian kendaraan listrik, pola kerja jaringan berubah drastis. Interaksi pengguna meningkat, potensi transaksi di sisi beban tumbuh, dan risiko ketidakseimbangan sistem makin besar.
Huawei memandang integrasi mendalam teknologi digital ke dalam seluruh skenario ketenagalistrikan sebagai jalan keluar. “Pembentukan ulang proses produksi dan operasional melalui telekomunikasi dan AI memungkinkan jaringan listrik mencapai stabilitas dan fleksibilitas yang optimal,” kata Jason.
Sorotan Huawei tertuju pada jaringan distribusi, yang dinilai sebagai titik krusial terobosan sistem ketenagalistrikan masa depan. Tantangan terbesar ada pada minimnya visibilitas di tingkat tegangan rendah, khususnya pada level 400 volt—wilayah yang selama ini kerap menjadi “blind spot” dalam pengelolaan listrik.

Untuk menjawab persoalan itu, Huawei bersama para mitra mengembangkan Intelligent Distribution Solution (IDS), solusi distribusi cerdas yang dirancang menciptakan transparansi penuh di jaringan tegangan rendah. Solusi ini memungkinkan operator memantau, mengelola, dan menyeimbangkan beban secara real-time, sekaligus meningkatkan keamanan dan keandalan jaringan distribusi.
Inovasi tersebut akan dipamerkan Huawei pada Mobile World Congress (MWC) 2026 di Barcelona. Perusahaan teknologi asal Cina itu berencana menampilkan aplikasi AI terbarunya dalam digitalisasi ketenagalistrikan, mulai dari distribusi listrik cerdas, gardu induk berbasis digital, hingga teknologi inspeksi pembangkit listrik.
Di tengah dunia yang semakin bergantung pada listrik—baik untuk industri, transportasi, maupun ekonomi digital—klaim Huawei menegaskan satu hal: masa depan energi tidak hanya ditentukan oleh sumbernya, tetapi oleh kecerdasan sistem yang mengelolanya. Jaringan listrik yang cerdas, transparan, dan adaptif kini menjadi prasyarat mutlak bagi transisi energi global.

