Jakarta (tutur.co.id) – Kebiasaan menumpuk barang atau hoarding disorder merupakan gangguan yang mengarah pada kesehatan mental. Kebiasaan menumpuk barang ini dapat menyebabkan konflik tekanan bagi anggota keluarga yang tinggal bersama.
Penderita kebiasaan menumpuk barang atau hoarding disorder yang tinggal bersama keluarga entah itu orang tuanya, anak, atau saudara kandung dipastikan akan berada di tengah kekacauan sulit secara fisik dan mental. Ketegangan pasti selalu muncul.
Bagaimana hoarding disorder dapat mengganggu keluarga? Berikut empat konflik yang dapat muncul.
Dikutip dari laman International OCD Foundation , munculnya konflik dampak dari penumpukan barang atau hoarding disorder yang utama diawali dengan berkurangnya area atau ruang yang biasa difungsikan untuk kegiatan bersama. Ruang ini beralih fungsi sebagai tempat menumpuk barang.
Yang kedua, konflik lainnya adalah soal finansial. Bertambahnya pengeluaran karena belanja berlebihan memenuhi keinginan menumpuk barang, dan juga kebutuhan untuk menyiapkan storage lebih. Bisa juga terdapat utang pada akhirnya.
Konflik ketiga yang muncul dari menumpuk barang bisa datang dari individu dengan perilaku hoarding disorder. Individu ini bisa mengklaim sebagian rumah adalah wilayahnya dan digunakan untuk menumpuk barang-barangnya. Ia mengendalikan ruangan-ruangan tersebut. Konflik ini akan menimbulkan rasa frustasi bagi keluarga yang tinggal bersama.
Terakhir, konflik yang muncul saat anggota keluarga melakukan kegiatan bersih-bersih dan merapikan barang yang dimiliki oleh individu hoarding disorder. Terlebih saat kejadian dilakukan tanpa sepengetahuan individu tersebut. Penderita akan merasa ditipu atau tidak dihargai akhirnya menimbulkan pertengkaran dan hilangnya kepercayaan.
Bila empat konflik di atas pernah Anda alami, sebaiknya segera meminta pertolongan profesional. Keluarga patut mendapatkan kehidupan yang damai tanpa tekanan dan konflik terlebih dampak dari kebiasaan menumpuk barang.

