Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas global kembali berada di bawah tekanan setelah sempat mencetak penurunan tajam, dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Dalam lanskap pasar yang semakin kompleks, pergerakan logam mulia kini tidak hanya ditentukan oleh faktor safe haven, tetapi juga oleh dinamika likuiditas global yang kian agresif.
Dalam laporan terbarunya, World Gold Council (WGC) mencatat bahwa harga emas spot sempat jatuh 3,73% ke level US$ 4.813,88 per troy ons pada 19 Maret 2026—menjadi titik terendah sejak awal Februari. Tekanan ini terutama datang dari kenaikan imbal hasil riil serta ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter yang masih ketat ke depan.
WGC menilai, kombinasi faktor seperti kenaikan suku bunga, aksi ambil untung, serta pengetatan likuiditas telah membebani sentimen investor terhadap emas. Bahkan, pola pergerakan saat ini disebut menyerupai periode krisis 2008 dan 2020, ketika dinamika likuiditas global lebih dominan dibandingkan fundamental jangka panjang.
Namun, di balik tekanan jangka pendek tersebut, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi variabel kunci. Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, menciptakan dua sisi risiko sekaligus: di satu sisi menekan pertumbuhan ekonomi global, namun di sisi lain berpotensi memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
WGC menegaskan bahwa arah harga emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan stabilitas jalur energi global, terutama Selat Hormuz. Sinyal pembukaan kembali jalur tersebut dinilai dapat memulihkan kepercayaan pasar, sementara gangguan berkepanjangan justru berisiko mendorong inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bagi pelaku pasar dan kalangan eksekutif, kondisi ini mencerminkan fase transisi: emas tidak lagi bergerak semata sebagai safe haven klasik, melainkan sebagai aset strategis yang sensitif terhadap kombinasi suku bunga, geopolitik, dan risiko sistemik global.
Dalam jangka menengah hingga panjang, WGC tetap melihat fondasi emas relatif kuat. Tren multipolarisasi global, fragmentasi geopolitik, serta kekhawatiran terhadap utang negara dinilai akan terus menopang peran emas dalam portofolio strategis—meski volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari.

