New Jersey (Tutur.co.id) – Timnas Jerman bertekad mempertahankan rekor sempurna mereka di Piala Dunia 2026 saat menghadapi Ekuador pada laga terakhir Grup E yang berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Jumat (26/6/2026) pukul 03.00 WIB.
Die Mannschaft telah memastikan tiket ke babak 32 besar sebagai juara grup, Ekuador justru berada di ujung tanduk dan membutuhkan hasil luar biasa untuk menjaga harapan lolos ke fase gugur.
Misi Ekuador untuk mengalahkan Jerman di laga terakhir Grup E bisa dibilang mendekati kata mustahil. Selain wajib meraih kemenangan demi menjaga peluang lolos, La Tri harus berhadapan dengan salah satu tim paling impresif di Piala Dunia 2026 yang dihuni pemain-pemain bintang berkelas dunia dan memiliki kedalaman skuad jauh di atas mereka.
Perbedaan kualitas individu, pengalaman, mental juara, hingga efektivitas permainan membuat jurang antara kedua tim terlihat sangat lebar. Jika Ekuador bahkan kesulitan membobol gawang Curacao, maka membongkar pertahanan Jerman sekaligus menghentikan derasnya serangan Die Mannschaft menjadi tantangan yang tampak terlalu berat untuk mereka selesaikan.
Jerman Datang dengan Modal Sempurna
Jerman menjadi salah satu tim paling meyakinkan sepanjang fase grup Piala Dunia 2026. Setelah menghancurkan Curacao dengan skor telak 7-1 pada pertandingan pembuka, pasukan Julian Nagelsmann kembali menunjukkan mental juara saat membalikkan keadaan untuk mengalahkan Pantai Gading 2-1 pada laga kedua.
Pahlawan kemenangan Jerman adalah Deniz Undav. Penyerang Stuttgart tersebut masuk dari bangku cadangan dan mencetak dua gol, termasuk gol kemenangan dramatis pada menit ke-94. Penampilan gemilang itu membuat Undav telah terlibat langsung dalam lima gol sepanjang turnamen, terdiri dari tiga gol dan dua assist.
Catatan tersebut menyamai pencapaian legendaris Roger Milla bersama Kamerun pada Piala Dunia 1990 sebagai pemain pengganti dengan kontribusi gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia sejak statistik resmi mulai dicatat pada tahun 1966.
Meski permainan mereka belum sepenuhnya mencapai performa terbaik, Jerman saat ini menjadi tim tersubur di turnamen dengan koleksi sembilan gol dari dua pertandingan. Kemenangan atas Pantai Gading juga memperpanjang tren positif mereka menjadi 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi sejak September tahun lalu.
Jika berhasil mengalahkan Ekuador, Jerman akan menyamai rekor kemenangan beruntun terpanjang dalam sejarah mereka, yakni 12 pertandingan yang pernah dicatatkan saat masih bernama Jerman Barat antara Mei 1979 hingga Juni 1980.
Selain itu, kemenangan juga akan memastikan Die Mannschaft menyapu bersih seluruh pertandingan fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak menjadi tuan rumah pada edisi 2006.
Produktif di Depan, Masih Rapuh di Belakang
Di balik ketajaman lini serang, Jerman masih memiliki pekerjaan rumah di sektor pertahanan. Mereka telah kebobolan dalam lima dari enam pertandingan terakhir di semua kompetisi.
Bahkan, Die Mannschaft belum pernah mencatatkan clean sheet dalam delapan pertandingan terakhir mereka di ajang Piala Dunia. Terakhir kali Jerman menutup pertandingan tanpa kebobolan terjadi saat mengalahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2014.
Meski demikian, kualitas skuad yang dimiliki Nagelsmann tetap menjadikan mereka salah satu kandidat kuat juara dunia tahun ini.
Ekuador Terancam Gagal Lolos
Berbeda dengan Jerman, perjalanan Ekuador di Piala Dunia 2026 sejauh ini penuh kekecewaan. La Tri baru mengumpulkan satu poin dari dua pertandingan dan kini berada dalam posisi sulit untuk lolos ke babak berikutnya.
Pada laga pertama, mereka sebenarnya tampil cukup baik saat menghadapi Pantai Gading. Ekuador bahkan tiga kali membentur mistar gawang sebelum akhirnya kalah akibat gol pada menit ke-90.
Nasib kurang beruntung kembali menghantui mereka ketika ditahan imbang tanpa gol oleh Curacao pada pertandingan kedua. Meski mendominasi jalannya pertandingan dan melepaskan 27 tembakan, Ekuador gagal mencetak gol.
Sebanyak 15 peluang mereka berhasil digagalkan kiper Curacao, Eloy Room, yang tampil luar biasa sepanjang laga. Masalah terbesar Ekuador sejauh ini adalah penyelesaian akhir. Mereka mampu menciptakan peluang, tetapi gagal mengubah dominasi menjadi gol.
Raja Hasil Imbang yang Kehabisan Waktu
Tim asuhan Sebastian Beccacece memang sudah terbiasa bermain imbang. Sebelum tampil di Piala Dunia, mereka mencatat lima hasil seri dari delapan laga uji coba.
Saat menjalani kualifikasi zona CONMEBOL, Ekuador juga mengoleksi delapan hasil imbang dari 18 pertandingan. Bahkan sejak Juli 2024, mereka telah memainkan sembilan pertandingan yang berakhir dengan skor 0-0.
Kini kebiasaan tersebut justru menjadi ancaman. Dengan hanya satu poin di tangan, hasil imbang melawan Jerman hampir dipastikan tidak cukup untuk membawa mereka lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Karena itu, kemenangan menjadi satu-satunya target realistis bagi Ekuador jika ingin menjaga peluang tampil di babak 32 besar.
Rekor pertemuan juga tidak berpihak kepada La Tri. Dalam dua pertemuan sebelumnya melawan Jerman, mereka selalu kalah dengan agregat skor 7-2.
Jika kembali gagal mencetak gol pada pertandingan ini, Ekuador berpotensi menjadi negara Amerika Selatan kedua setelah Bolivia yang menuntaskan fase grup Piala Dunia tanpa mencetak satu gol pun.
Kondisi Terkini Kedua Tim
Jerman dipastikan kehilangan bek tengah Nico Schlotterbeck yang mengalami cedera pergelangan kaki saat menghadapi Pantai Gading. Cedera tersebut membuatnya harus mengakhiri turnamen lebih cepat.
Sebagai pengganti, Julian Nagelsmann memiliki beberapa opsi seperti Antonio Rudiger, Waldemar Anton, dan Malick Thiaw.
Karena tiket fase gugur sudah berada di tangan, Nagelsmann diperkirakan akan melakukan rotasi. Oliver Baumann berpeluang tampil di bawah mistar, sementara David Raum, Leon Goretzka, Angelo Stiller, dan Nadiem Amiri juga berpotensi menjadi starter.
Performa impresif Deniz Undav bahkan bisa membuatnya mendapatkan kesempatan tampil sejak menit pertama menggantikan Kai Havertz di lini depan.
Di kubu Ekuador, tidak ada masalah cedera maupun kebugaran pemain. Sebastian Beccacece diperkirakan tetap mempertahankan kerangka utama timnya.
Alan Franco kemungkinan kembali dimainkan lebih maju di lini tengah untuk mendampingi Moises Caicedo dan Pedro Vite. Sementara harapan mencetak gol masih bertumpu pada kapten sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Ekuador, Enner Valencia.
Pada usia 36 tahun, Valencia kini hanya membutuhkan satu gol lagi untuk mencapai koleksi 50 gol bersama tim nasional.
Prediksi Ekuador vs Jerman
Ekuador sejatinya cukup solid dalam bertahan dan mampu menyulitkan lawan sepanjang dua pertandingan pertama. Namun masalah ketajaman di lini depan menjadi persoalan yang belum juga terpecahkan.
Sebaliknya, Jerman datang sebagai tim paling produktif di turnamen dengan kedalaman skuad yang memungkinkan mereka tetap kompetitif meski melakukan rotasi pemain.
Motivasi untuk menjaga rekor sempurna serta menyamai catatan kemenangan beruntun terbaik dalam sejarah tim nasional Jerman diperkirakan akan membuat Die Mannschaft tetap tampil serius.
Melihat perbedaan kualitas skuad, efektivitas serangan, serta kepercayaan diri kedua tim saat ini, Jerman lebih diunggulkan untuk meraih kemenangan sekaligus menutup fase grup dengan hasil sempurna.
Ekuador 0-2 Jerman

