Jakarta (tutur.co.id) — Perekonomian Indonesia memasuki 2026 dengan tantangan yang tidak kecil. Setelah melalui tahun penuh tekanan global, pengetatan likuiditas, dan penyesuaian fiskal domestik, Indonesia dinilai berhasil melewati fase paling berat tanpa tergelincir ke krisis. Penilaian itu disampaikan Danantara Indonesia dalam Economic Outlook 2026, yang memosisikan 2025 sebagai tahun ujian dan 2026 sebagai fase kenaikan level.
Managing Director dan Chief Economist Danantara Indonesia, Reza Yamora Siregar, menyebut tekanan global dan domestik yang terjadi sejak awal berdirinya lembaga tersebut sebagai ujian pembentukan.
“Kami lahir di tengah tantangan makroekonomi dan geopolitik yang kompleks. Namun kami percaya tekanan tersebut justru akan membentuk kami menjadi institusi yang lebih kuat, sebagaimana Indonesia yang selalu muncul lebih tangguh setiap kali menghadapi ujian ekonomi,” kata Reza dalam pengantar laporan Economi Outlook 2026 yang diterima tutur.co.id, Sabtu (10/1/2026).
Danantara menggambarkan paruh pertama 2025 sebagai periode konsolidasi yang menekan. Belanja fiskal ditahan akibat penataan ulang anggaran, sementara likuiditas sistem keuangan mengetat. Kombinasi ini berdampak langsung pada melambatnya kredit dan konsumsi rumah tangga.
Dalam laporannya, Danantara menyatakan, “Paruh pertama 2025 ditandai oleh periode konsolidasi, dengan belanja fiskal yang lebih terbatas dan likuiditas yang lebih ketat di sistem keuangan.”

Situasi tersebut membuat pertumbuhan kredit mendingin dari level dua digit, sementara konsumsi rumah tangga mengalami pengetatan yang bertahan hingga kuartal ketiga. Tekanan ini datang pada saat yang tidak ideal, ketika Indonesia tengah menjalani transformasi struktural di bawah pemerintahan baru.
Danantara menilai 2025 menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi nasional, meskipun ujian tersebut berhasil dilewati dengan relatif baik.
Pemulihan Datang Serentak
Memasuki paruh kedua 2025, arah ekonomi mulai berbalik. Konsumsi rumah tangga kembali bergerak, sentimen membaik, dan prospek lapangan kerja pulih. Danantara mencatat kebangkitan ini terjadi hampir bersamaan di berbagai sektor.
“Kemudian, keadaan mulai membaik semuanya, di berbagai tempat, hampir secara bersamaan. Belanja konsumen kembali bergairah, dengan sentimen yang pulih mendekati tingkat tertingginya sebelumnya,” tulis laporan Danantara.
Pemulihan ini turut didorong oleh membaiknya kondisi ketenagakerjaan, yang membalikkan gelombang pemutusan hubungan kerja, terutama di sektor manufaktur. Aktivitas manufaktur mencatatkan ekspansi selama empat bulan terakhir, setelah sebelumnya mengalami kontraksi dalam durasi yang sama.
Danantara menilai fase ini sebagai titik balik penting. Jika pemulihan awal didorong oleh permintaan ekspor yang dimajukan lebih awal, maka ekspansi terbaru dinilai semakin jelas digerakkan oleh pesanan domestik.
Perubahan tersebut, menurut Danantara, mencerminkan terbentuknya siklus pertumbuhan yang sehat. Produksi mendorong penciptaan lapangan kerja, yang kemudian memperkuat permintaan, dan pada akhirnya kembali meningkatkan produksi.

Dalam laporannya, Danantara menegaskan, “Apa yang tengah kita saksikan adalah sebuah siklus pertumbuhan yang ideal, di mana peningkatan produksi menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan permintaan, yang pada gilirannya mendorong produksi yang lebih besar lagi.”
Momentum ini dinilai menjadi fondasi kuat bagi kelanjutan ekspansi ekonomi pada 2026.
Fase Mendaki di 2026
Jika 2025 membuktikan Indonesia memiliki batas bawah pertumbuhan yang relatif tinggi, maka 2026 dipandang sebagai fase untuk menguji seberapa tinggi pertumbuhan tersebut dapat dinaikkan. Danantara mengakui masih terdapat risiko signifikan, termasuk dampak banjir di Sumatra. Namun laporan tersebut menilai faktor pendorong pertumbuhan lebih dominan.
Perubahan sikap fiskal menjadi salah satu faktor utama. Setelah periode pengetatan pada awal 2025, pemerintah dinilai mulai bergerak ke arah kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan. Program Makan Bergizi Gratis disebut sebagai salah satu pendorong utama karena mempercepat penyaluran fiskal dan menciptakan dorongan permintaan yang lebih konsisten.
Di sisi moneter, Danantara menilai efek pemangkasan suku bunga sepanjang 2025 mulai mengalir ke ekspansi kredit, khususnya kredit modal kerja, seiring bangkitnya aktivitas usaha.
Berbeda dengan kredit modal kerja, permintaan kredit investasi dinilai tetap solid. Danantara melihat hal ini sebagai sinyal kuat bahwa selera investasi fundamental masih terjaga.
“Permintaan terhadap kredit investasi tidak pernah surut, yang menunjukkan selera investasi yang secara fundamental tetap kuat meskipun terdapat fluktuasi di bagian lain perekonomian,” tulis Danantara.
Meski demikian, Danantara mencatat aktivitas investasi masih menyempit dari sisi investor dan sektor. Pertumbuhan 2025 lebih banyak ditopang investor domestik, sementara arus investasi asing melemah. Potensi ke depan, menurut laporan tersebut, terletak pada perluasan basis investasi dan kebangkitan kembali arus FDI, dengan Danantara diposisikan sebagai katalis domestik.

