Close Menu
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Facebook X (Twitter) Instagram
tutur.co.idtutur.co.id
  • Beranda
  • Politik & Hukum
    • Politik
    • Hukum
    • Keamanan
    • Daerah
    • Wawancara
  • Ekbis
    • Energi & Tambang
    • Finance
    • Makro
    • Mikro
    • Ekonomi Hijau
    • Market
  • Otomotif
    • Motor
    • Mobil
    • Aksesori
    • Industri
  • Opini
    • Opini
    • Tutur PoV
  • Lifestyle
    • Perempuan
    • Fashion
    • Health
    • Techno
  • Sport
  • Video
Indeks
Trending
  • Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak
  • Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya
  • Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?
  • Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul
  • Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir
  • Ceceran Darah di Jembatan Bandar Khamir Membakar Amarah Iran
  • Tahunnya Rusia Pamer Kekuatan, Gelar Latihan Militer Estafet
  • Wasit Slavko Vincic: Pertanda Baik Spanyol atau Mimpi Buruk Argentina?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
tutur.co.idtutur.co.id
Home»Makro»Ekonomi Indonesia Lulus Ujian 2025, Danantara Klaim 2026 Jadi Tahun Akselerasi

Ekonomi Indonesia Lulus Ujian 2025, Danantara Klaim 2026 Jadi Tahun Akselerasi

Makro Alpin Pulungan10 Januari 2026 / 15:25 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kapal penyeberangan milik ASDP bersandar di pelabuhan. ASDP memilki peran transportasi laut untuk mendukung mobilitas dan aktivitas ekonomi antardaerah di Indonesia. Foto: IG @danantara.indonesia
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jakarta (tutur.co.id) — Perekonomian Indonesia memasuki 2026 dengan tantangan yang tidak kecil. Setelah melalui tahun penuh tekanan global, pengetatan likuiditas, dan penyesuaian fiskal domestik, Indonesia dinilai berhasil melewati fase paling berat tanpa tergelincir ke krisis. Penilaian itu disampaikan Danantara Indonesia dalam Economic Outlook 2026, yang memosisikan 2025 sebagai tahun ujian dan 2026 sebagai fase kenaikan level.

Managing Director dan Chief Economist Danantara Indonesia, Reza Yamora Siregar, menyebut tekanan global dan domestik yang terjadi sejak awal berdirinya lembaga tersebut sebagai ujian pembentukan.

“Kami lahir di tengah tantangan makroekonomi dan geopolitik yang kompleks. Namun kami percaya tekanan tersebut justru akan membentuk kami menjadi institusi yang lebih kuat, sebagaimana Indonesia yang selalu muncul lebih tangguh setiap kali menghadapi ujian ekonomi,” kata Reza dalam pengantar laporan Economi Outlook 2026 yang diterima tutur.co.id, Sabtu (10/1/2026).

Danantara menggambarkan paruh pertama 2025 sebagai periode konsolidasi yang menekan. Belanja fiskal ditahan akibat penataan ulang anggaran, sementara likuiditas sistem keuangan mengetat. Kombinasi ini berdampak langsung pada melambatnya kredit dan konsumsi rumah tangga.

Dalam laporannya, Danantara menyatakan, “Paruh pertama 2025 ditandai oleh periode konsolidasi, dengan belanja fiskal yang lebih terbatas dan likuiditas yang lebih ketat di sistem keuangan.”

Grafik Mandiri Spending Index menunjukkan percepatan konsumsi masyarakat, terutama pada sektor mobilitas dan perjalanan, seiring pemulihan permintaan domestik sepanjang 2024 hingga 2025. Grafik: Dok. Danantara

Situasi tersebut membuat pertumbuhan kredit mendingin dari level dua digit, sementara konsumsi rumah tangga mengalami pengetatan yang bertahan hingga kuartal ketiga. Tekanan ini datang pada saat yang tidak ideal, ketika Indonesia tengah menjalani transformasi struktural di bawah pemerintahan baru.

Danantara menilai 2025 menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi nasional, meskipun ujian tersebut berhasil dilewati dengan relatif baik.

Pemulihan Datang Serentak

Memasuki paruh kedua 2025, arah ekonomi mulai berbalik. Konsumsi rumah tangga kembali bergerak, sentimen membaik, dan prospek lapangan kerja pulih. Danantara mencatat kebangkitan ini terjadi hampir bersamaan di berbagai sektor.

Baca Juga  Restrukturisasi Whoosh Sudah Selesai, Menkeu Purbaya: Administrasinya Lambat

“Kemudian, keadaan mulai membaik semuanya, di berbagai tempat, hampir secara bersamaan. Belanja konsumen kembali bergairah, dengan sentimen yang pulih mendekati tingkat tertingginya sebelumnya,” tulis laporan Danantara.

Pemulihan ini turut didorong oleh membaiknya kondisi ketenagakerjaan, yang membalikkan gelombang pemutusan hubungan kerja, terutama di sektor manufaktur. Aktivitas manufaktur mencatatkan ekspansi selama empat bulan terakhir, setelah sebelumnya mengalami kontraksi dalam durasi yang sama.

Danantara menilai fase ini sebagai titik balik penting. Jika pemulihan awal didorong oleh permintaan ekspor yang dimajukan lebih awal, maka ekspansi terbaru dinilai semakin jelas digerakkan oleh pesanan domestik.

Perubahan tersebut, menurut Danantara, mencerminkan terbentuknya siklus pertumbuhan yang sehat. Produksi mendorong penciptaan lapangan kerja, yang kemudian memperkuat permintaan, dan pada akhirnya kembali meningkatkan produksi.

Grafik PMI manufaktur menunjukkan pemulihan aktivitas industri yang ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, tercermin dari peningkatan pesanan baru sepanjang 2025 meski ekspor masih berfluktuasi. Grafik: Dok. Danantara

Dalam laporannya, Danantara menegaskan, “Apa yang tengah kita saksikan adalah sebuah siklus pertumbuhan yang ideal, di mana peningkatan produksi menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan permintaan, yang pada gilirannya mendorong produksi yang lebih besar lagi.”

Momentum ini dinilai menjadi fondasi kuat bagi kelanjutan ekspansi ekonomi pada 2026.

Fase Mendaki di 2026

Jika 2025 membuktikan Indonesia memiliki batas bawah pertumbuhan yang relatif tinggi, maka 2026 dipandang sebagai fase untuk menguji seberapa tinggi pertumbuhan tersebut dapat dinaikkan. Danantara mengakui masih terdapat risiko signifikan, termasuk dampak banjir di Sumatra. Namun laporan tersebut menilai faktor pendorong pertumbuhan lebih dominan.

Perubahan sikap fiskal menjadi salah satu faktor utama. Setelah periode pengetatan pada awal 2025, pemerintah dinilai mulai bergerak ke arah kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan. Program Makan Bergizi Gratis disebut sebagai salah satu pendorong utama karena mempercepat penyaluran fiskal dan menciptakan dorongan permintaan yang lebih konsisten.

Baca Juga  Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Menguat pada Triwulan II 2026, Sektor Riil Jadi Penopang Utama

Di sisi moneter, Danantara menilai efek pemangkasan suku bunga sepanjang 2025 mulai mengalir ke ekspansi kredit, khususnya kredit modal kerja, seiring bangkitnya aktivitas usaha.

Berbeda dengan kredit modal kerja, permintaan kredit investasi dinilai tetap solid. Danantara melihat hal ini sebagai sinyal kuat bahwa selera investasi fundamental masih terjaga.

“Permintaan terhadap kredit investasi tidak pernah surut, yang menunjukkan selera investasi yang secara fundamental tetap kuat meskipun terdapat fluktuasi di bagian lain perekonomian,” tulis Danantara.

Meski demikian, Danantara mencatat aktivitas investasi masih menyempit dari sisi investor dan sektor. Pertumbuhan 2025 lebih banyak ditopang investor domestik, sementara arus investasi asing melemah. Potensi ke depan, menurut laporan tersebut, terletak pada perluasan basis investasi dan kebangkitan kembali arus FDI, dengan Danantara diposisikan sebagai katalis domestik.

Danantara ekonomi Indonesia kebijakan fiskal outlook ekonomi 2026 pertumbuhan ekonomi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleOperasi Kemanusiaan di Sumatra, Pertamina Gratiskan 654 Ribu Liter BBM dan 1.500 Tabung LPG
Next Article OTT Perdana KPK 2026, Pegawai Ditjen Pajak Kemenkeu Diamankan

Berita Lainnya

Celios: Danantara Harus Perketat Seleksi Proyek Hilirisasi Usai Bergabung dengan Forum SWF Dunia

17 Juli 2026 / 16:58 WIB

Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Menguat pada Triwulan II 2026, Sektor Riil Jadi Penopang Utama

17 Juli 2026 / 15:58 WIB

Menkeu Purbaya: Rupiah Melemah karena Faktor Global, Penguatan UMKM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

17 Juli 2026 / 09:55 WIB

S&P: Danantara Berpotensi Perkuat Daya Saing BUMN dan Dongkrak Penerimaan Negara

16 Juli 2026 / 17:42 WIB

Hong Kong Geser Singapura sebagai Investor Terbesar Indonesia pada Kuartal II-2026, Pertama dalam Satu Dekade

16 Juli 2026 / 16:50 WIB

Presiden Prabowo Kumpulkan DEN di Hambalang, Apa yang Dibicarakan?

14 Juli 2026 / 22:01 WIB
Form Komentar Cancel Reply

Diancam Trump, Iran Ancam Balik Hancurkan Fasilitas Energi Kawasan

Deba Salamah23 Maret 2026 / 15:00 WIB

Enggak Tercantum di LHKPN Febrie, Rumah Sentul Ternyata Milik Sang Anak

18 Juli 2026 / 16:19 WIB

Review Lengkap Samsung Galaxy A27 5G: Keunggulan, Kekurangan dan Harganya

18 Juli 2026 / 16:04 WIB

Tuchel Disorot Usai Inggris Tersingkir: Salah Taktik atau Mental Pemain?

18 Juli 2026 / 16:00 WIB

Febrie Tak Tahu Brankas Berisi Emas Batangan dan Dolar di Rumah Sentul

18 Juli 2026 / 15:41 WIB

Hotman Tidak Ngarep Imbalan Bela Febrie: Modal HP Bikin Penyidik Kocar-kacir

18 Juli 2026 / 15:06 WIB

Copyright @ PT Tutur Media Digital

Bertutur Berdasar Fakta dan Data

Instagram TikTok X (Twitter) YouTube Facebook

Tentang
Redaksi
Alamat dan Kontak
Kode Perilaku Perusahaan

Disclaimer
Kode Etik
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.