Jakarta (Tutur.co.id) – Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi tiba-tiba menyambangi kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo di Solo, Rabu 2 April 2026. Yang menarik, Dubes Iran tersebut justru belum bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah Dubes Iran ini memang menyisakan tanda tanya. Bahkan tak sedikit yang mengaitkan langkah Dubes Iran itu sebagai bentuk sindiran halus kepada Prabowo yang tak kunjung mengutuk keras serangan Amerika Serikat dan Israel.
Kunjungan Dubes Iran ke kediaman Jokowi ini juga ditanggapi Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti. Menurut Ray Rangkuti, di era pemerintahan Prabowo Subianto hubungan Indonesia dan Iran memang tak seharmonis saat era Joko Widodo.
“Iran tetap menghargai dukungan rakyat dan sebagian besar pemimpin Indonesia. Khususnya pak Jokowi adalah salah satu presiden yang berkunjung ke Iran dan mendapat sambutan yang baik. Hubungan Indonesia-Iran selama ini baik, bahkan nyaris tanpa konflik apapun. Hingga masuk ke era Prabowo dengan kebijakan luar negeri yang terlihat sangat timpang,” kata Ray Rangkuti.
Masih menurut Ray Rangkuti, suka atau tidak suka Presiden Prabowo saat ini lebih condong ke Amerika. Hal itu tampaknya yang membuat Iran justru lebih memilih untuk merapat ke Joko Widodo.
“Prabowo, disebut atau tidak, sangat condong ke Amerika. Sikap dan keputusan-keputusannya selama ini lebih dari cukup untuk menjelaskan hal itu. Dan lebih khusus lagi ke Iran, simpati dan dukungan Prabowo dapat disebut minimalis,” kata Ray Rangkuti.
Bahkan Ray Rangkuti menganggap keregangan hubungan Iran dan Indonesia sangat mencolok terlihat.
“Mulai dari Prabowo terlambat mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Imam Ali Khomeini. Lalu tidak pernah ada kecaman atas serbuan Israel-Amerika terhadap Iran. Karena itulah, Iran seperti kehilangan teman yang selama ini cukup erat,” pungkas Ray Rangkuti.

