Washington (Tutur.co.id) – Amerika Serikat (AS) mengklaim tengah mempersiapkan jalur perundingan dengan Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Namun klaim Presiden AS, Donald Trump itu dianggap bohong dan hanya akal bulus Trump saja.
“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap permusuhan kita di Timur Tengah,” tulis Donald Trump di platform media sosial Truth.
Trump juga dikabarkan akan mengutus negosiator AS Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk bertemu dengan delegasi Iran di Pakistan dalam minggu-minggu ini.
Klaim tersebut muncul saat tekanan ekonomi di dalam negeri AS meningkat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik Timur Tengah, khususnya gangguan di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital pasokan energi global. Situasi ini membuat stabilitas harga energi menjadi kepentingan strategis bagi Washington.
Bak bertepuk sebelah tangan, klaim Trump itu langsung mendapat respon dari Teheran yang menyebut isu negosiasi antara AS dan Iran hanya hoaks atau berita palsu. Iran bahkan menuding perundingan yang dihembuskan AS hanya semata karena alasan Trump untuk memanipulasi pasar keuangan AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei pada Selasa 24 Maret 2026, mengatakan beberapa negara sahabat memang tampak membawa pesan titipan dari Trump untuk bernegosiasi dengan tujuan mengakhiri perang. Namun Iran membantah bahwa telah terjadi pembicaraan antara Washington DC dan Teheran.
Kecurigaan Iran itu ternyata benar adanya. Tak berapa lama setelah klaim Trump itu, bursa saham Amerika Serikat dilaporkan sempat menguat tajam. Namun juga tak berapa lama setelah bantahan datang dari Teheran semuanya kembali ambrol.
Poinnya, sentimen positif coba digunakan Trump untuk mendorong optimisme investor sekaligus menekan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global terutama dengan makin melambungnya harga minyak dunia.

