Jakarta (tutur.co.id)- Kunjungan pelajar ke Istana Kepresidenan kembali jadi sorotan. Bagi sebagian orang, ini sekadar agenda seremonial. Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih menarik: seberapa penting sih pengalaman belajar langsung di tempat bersejarah bagi anak-anak?
Di tengah metode belajar yang makin digital, kehadiran fisik di ruang-ruang sejarah justru menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan layar yaitu rasa.
Masuk ke bangunan bersejarah atau museum bukan cuma soal melihat benda lama. Ada pengalaman yang bekerja lebih dalam yaitu membangun koneksi emosional dengan masa lalu.
Program kunjungan pelajar ke Istana Kepresidenan merupakan bagian dari inisiatif pemerintah untuk membuka akses edukasi yang lebih luas bagi generasi muda. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa program “Istana untuk Anak Sekolah” mulai dijalankan atas instruksi Presiden, sebagai upaya membuka pintu Istana bagi para pelajar agar mereka dapat mengenal lebih dekat simbol negara dan perjalanan bangsa. Penyampaian tersebut disampaikan usai mengajak siswa SMKN 19 Jakarta mengikuti kegiatan di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 7 April 2026, dikutip dari laman setkab.go.id.
Data menunjukkan, Indonesia memiliki ratusan museum yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jumlah museum di Indonesia mencapai lebih dari 400 unit. Namun, tingkat kunjungan masih tergolong rendah dan cenderung meningkat hanya pada momen tertentu seperti libur sekolah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa museum belum sepenuhnya menjadi bagian dari kebiasaan belajar masyarakat, padahal potensinya besar sebagai ruang edukasi alternatif.
Sejarah jadi lebih “hidup”
Membaca buku tentang perjuangan bangsa tentu penting. Tapi berdiri langsung di ruang yang menyimpan cerita—entah itu museum, candi, atau istana—memberi dimensi berbeda. Anak-anak tidak hanya tahu, tapi juga merasakan. Ini yang membuat sejarah lebih membekas.
Melatih empati dan perspektif
Melihat langsung peninggalan sejarah membantu anak memahami bahwa masa lalu bukan sekadar cerita hitam-putih. Ada konteks, ada manusia, ada perjuangan. Dari sini, empati tumbuh—dan ini penting dalam membentuk cara pandang mereka ke masa kini.
Menguatkan identitas dan rasa memiliki
Bangunan bersejarah adalah bukti nyata perjalanan bangsa. Ketika anak mengenalnya sejak dini, tumbuh rasa memiliki. Mereka jadi lebih paham “dari mana kita berasal”, yang pada akhirnya membentuk identitas diri dan kebangsaan.
Mengaktifkan rasa ingin tahu
Berbeda dengan belajar pasif di kelas, kunjungan langsung memicu pertanyaan. Kenapa bangunannya seperti ini? Siapa yang pernah ada di sini? Apa yang terjadi dulu? Rasa ingin tahu ini adalah pintu awal dari proses belajar yang lebih dalam.
Jadi ruang belajar yang lebih menyenangkan
Tidak semua anak menikmati pelajaran sejarah di kelas. Tapi ketika dikemas dalam pengalaman—berjalan, mengamati, dan mengeksplorasi—belajar jadi terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Pada akhirnya, kunjungan ke Istana Kepresidenan bisa menjadi pintu masuk untuk membiasakan anak-anak belajar dari ruang-ruang sejarah lain: museum, situs budaya, hingga bangunan bersejarah di sekitar mereka.
Karena memahami masa lalu bukan hanya soal mengingat, tapi juga merasakan. Dan dari sanalah, masa depan dibentuk.

