Jakarta (tuturt.co.id) – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua bulan terakhir terasa seperti rangkaian pukulan beruntun. Dari puncaknya di kisaran 9.135 pada 20 Januari 2026, indeks merosot ke sekitar 7.022 menjelang libur Lebaran. Koreksi 23,1 persen itu bukan sekadar angka—ia mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang datang hampir bersamaan.
Pada Jumat (27/3/2026) bursa dibuka melemah 0,76 persen ke level 7.109,583 setelah 30 menit pasar berjalan. Tren bearish IHSG sepertinya menunjukkan belum berakhir. Volatilitasnya dalam pekan-pekan ini, sangat ditentukan oleh faktor global, terutama karena harga minyak dunia, kurs dollar, dan gejolak politik yang masih “liar” akibat perang AS Israel melawan Iran.
Menurut analisis Stockbit, ada tiga sumber guncangan utama. Pertama, pembekuan sementara indeks Indonesia oleh MSCI yang memicu keluarnya dana asing. Kedua, eskalasi konflik Amerika Serikat–Iran yang mendorong harga minyak melonjak lebih dari 40 persen akibat penutupan Selat Hormuz. Ketiga, meningkatnya kekhawatiran atas risiko fiskal dalam negeri, seiring asumsi APBN soal harga minyak dan kurs yang meleset.
Namun, apakah ini fase kejatuhan yang lebih dalam, atau justru mendekati dasar? Analisis Stockbit memberi perspektif historis yang menarik. Koreksi saat ini, menurut mereka, berada dalam rentang yang kerap terjadi pada episode tekanan pasar sebelumnya. “Drawdown sebesar -23% berada di kisaran yang sama dengan Taper Tantrum 2013 (-24%), China Scare 2015 (-25%), dan selloff Liberation Day 2025 (-25%),” tulis Stockbit.
Jika pola itu berulang, IHSG boleh jadi sudah mendekati titik terendahnya. Dalam catatan dua dekade terakhir, penurunan yang lebih dalam—melewati 25 persen—hanya terjadi saat krisis besar: gelembung dot-com awal 2000, krisis finansial global 2008, dan pandemi Covid-19 2020. Tiga episode itu memiliki skala guncangan yang jauh lebih sistemik dibanding kondisi saat ini.
Tekanan juga tercermin dari arus dana asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sampai 26 Maret 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar sekitar Rp22,2 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date). Konsistensi arus keluar ini menunjukkan kuatnya sentimen risk-off terhadap aset Indonesia, sekaligus mempertegas peran investor asing sebagai salah satu pendorong utama pelemahan IHSG dalam periode ini.
Pasar menunjukkan tidak bergerak hanya dengan logika historis. Dalam jangka pendek, ketidakpastian masih dominan. Harga minyak yang tinggi bukan hanya isu global, melainkan juga ancaman langsung terhadap stabilitas fiskal Indonesia. Beban subsidi energi berpotensi membengkak, sementara tekanan terhadap nilai tukar dapat mempersempit ruang kebijakan.
Murah, tapi belum tentu aman. Di sinilah dilema klasik investor muncul: masuk sekarang atau menunggu kejelasan. Bagi investor yang sudah terlanjur memegang saham, evaluasi menjadi kunci. Apakah alasan awal membeli masih relevan? Apakah fundamental emiten mampu bertahan dalam skenario harga energi tinggi?
Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi dalam seperti ini kerap menjadi pintu masuk yang menarik—dengan catatan selektif. Tidak semua saham akan pulih dengan kecepatan yang sama. Sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan impor berisiko mengalami tekanan lebih lama.
Ke depan, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh tiga hal. Pertama, apakah konflik AS–Iran mereda atau justru berlarut. Kedua, kemampuan pemerintah menjaga defisit fiskal tetap di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto. Ketiga, sejauh mana reformasi pasar modal bisa memenuhi tenggat evaluasi MSCI pada Mei 2026.
Lantas, apakah ini saatnya masuk? Jawabannya belum hitam-putih. Secara valuasi, pasar sudah murah dan secara historis mendekati area bawah—ini memberi argumen kuat untuk mulai masuk bertahap (gradual buying), terutama bagi investor jangka panjang. Namun, bagi investor dengan profil lebih konservatif atau berorientasi jangka pendek, pendekatan wait and see masih relevan hingga ada kejelasan arah konflik geopolitik dan stabilitas harga minyak.
Dengan kata lain, pasar saat ini berada di wilayah transisi: bukan lagi fase mahal untuk keluar, tetapi juga belum sepenuhnya aman untuk masuk agresif. Strategi yang paling rasional adalah kombinasi—mulai akumulasi perlahan, sambil tetap menjaga likuiditas untuk mengantisipasi skenario terburuk, terutama kalau perang di Timur Tengah berkepanjangan.

