Jakarta (Tutur.co.id) – Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru. Iran dikabarkan mulai membalas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel menggunakan rudal balistik berat. Serangan ini terjadi setelah rangkaian serangan militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap sejumlah target strategis di Iran dianggap sudah kelewatan.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap fasilitas militer Iran. Tak hanya sampai disitu, AS dan Israel kini bahkan meluai menyasar fasilitas umum dan depo minyak Iran. Pemerintah Iran menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyatakan akan menggunakan haknya untuk membela diri.
Sebagai balasan, Iran mulai melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Serangan ini menandai fase baru konflik terbuka antara ketiga pihak tersebut.
Iran Gunakan Rudal Berat
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penggunaan rudal balistik dengan hulu ledak sangat besar pada serangan ke-37 Operasi Janji Sejati 4. Beberapa rudal yang digunakan bahkan memiliki bobot hulu ledak lebih dari satu ton, yang dirancang untuk meningkatkan daya hancur dan jangkauan serangan.
IRGC menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari operasi militer yang lebih luas untuk membalas agresi militer terhadap Iran. “Iran akan menggunakan semua rudal yang memiliki hulu ledak minimal satu ton untuk menyerang target Israel,” kata sumber di internal IRGC.
Serangan tersebut dilaporkan tetap akan menargetkan pangkalan militer, fasilitas energi, serta beberapa wilayah strategis di Israel dan pangkalan yang digunakan oleh militer AS di kawasan.
Dampak Serangan Rudal
Serangan rudal Iran menyebabkan sirene peringatan berbunyi di berbagai kota di Israel, termasuk Tel Aviv. Sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat sebagian rudal, namun beberapa di antaranya berhasil menembus pertahanan dan menyebabkan kerusakan serta korban.
Eskalasi konflik antara Iran, AS, dan Israel juga memicu kekhawatiran komunitas internasional. Banyak negara menyerukan de-eskalasi dan dialog diplomatik untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa mereka siap melanjutkan operasi militer dalam jangka waktu lama jika serangan terhadap wilayahnya terus terjadi.

