Jakarta (tutur.co.id)- Pernah melihat rekan atau teman Anda yang punya kebiasaan menumpuk barang di rumahnya? Atau mungkin orang tua Anda sendiri juga melakukannya? Kebiasaan perempuan menumpuk barang ternyata dekat dengan alasan di balik kondisi mental seseorang.
Kebiasaan menumpuk barang bukan sekadar kekacauan pada pengaturan barang. Dikutip dari laman lifecycletransations, di balik kebiasaan hoarding disorder atau menumpuk barang pada perempuan ternyata sangat erat dikaitkan dengan faktor emosional, psikologis, dan sosial yang mendalam.
Ini lima alasan awal di balik kebiasaan menumpuk barang atau menimbun barang:
- Barang Membawa Arti Emosional Mendalam
Ada kekuatan emosional yang dirasakan perempuan dari barang-barang yang dimiliki atau diberi. Misal sebuah kartu ucapan sebagai tanda ia dicintai.
- Besar di Keluarga Penyimpan Kenangan
Sejak kecil, anak perempuan belajar memiliki tanggung jawab untuk melestarikan ikatan dalam keluarga melalui barang-barang. Misal menyimpan foto keluarga, terbesit tanggung jawab, “Aku harus menyimpan baik-baik foto ini.”
- Sedang Membangun Dinding Menghadapi Dunia yang Menakutkan
Kebanyakan perempuan secara tidak sadar menumpuk barang untuk mengalihkan rasa takutnya pada ancaman dunia. Lapisan-lapisan barang yang dikumpulkan layaknya benteng pelindung atas pengalaman yang tidak mengenakkan pada seorang perempuan. Misal mengalami kekerasan, atau pelanggaran, bahkan kehilangan.
- Terjebak dalam Kebingungan untuk Membuat Keputusan
Membuat keputusan “simpan atau buang” menjadi perbedaan mencolok antara laki-laki dan perempuan. Bagi perempuan yang menimbun atau menumpuk barang, ia akan intens mengalami hal-hal : ketakutan salah membuat keputusan, kesulitan memisahkan barang yang masih berguna dan tidak, ada tuntutan tak kasat mata yang mengharuskan ia membuat keputusan sempurna.
- Terlalu Perfeksionis
Saat segalanya harus sempurna, perfeksionisme membuat perempuan akhirnya menumpuk barang. Karena banyak berpikir untuk mencapai kesempurnaan.
Lima alasan ini yang harus Anda amati dan sadari, agar dapat mengantisipasi kebiasaan menumpuk barang atau hoarding disorder.

