Jakarta (tutur.co.id)- Pernahkah Anda menumpuk barang, merasa harus berpikir ulang puluhan kali sebelum membuang sesuatu? Berpikir ulang atau bahkan enggan membuang yang berakhir dengan menumpuk barang ternyata adalah warisan nenek moyang.
Dikutip dari laman psychologytoday , dahulu, di awal evolusi manusia terbiasa menimbun temuannya yang dianggap berguna dengan alasan keterbatasan sumber daya dan insting ketakutan pada rasa lapar.
Dan memang bertahan dengan cara menumpuk barang menjadi metode yang digunakan manusia purba untuk meneruskan hidup. Selain itu kebiasaan tersebut merupakan metode untukĀ mendapatkan rasa aman.
Di masa kini, kebiasaan menyimpan barang secara berlebihan dapat dianggap sebagai hoarding disorder. Dikutip dari laman lifecycletransitions, istilah hoarding disorderĀ merupakan kondisi mental yang membuat penderitanya memiliki kebiasaan mengumpulkan atau menumpuk barang–bahkan yang tidak berguna sekalipun.
Penderita biasanya juga tidak menyadari atas kebiasaan menumpuk barang atau enggan membuang barang, dan tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukan.
Lalu mengapa perempuan paling rentan mengidap kebiasaan menumpuk barang atau enggan membuang barang ini dibanding laki-laki? Jawabannya adalah karena perempuan memiliki keterikatan terhadap barang-barang yang dimiliki. Entah secara memori, atau menjadikan barang sebagai tameng emosi yang belum selesai, bahkan ada juga sebagai validasi dengan tolok ukur memiliki barang banyak.
Bila Anda merasa memiliki gejala ini, sadari penuh untuk pelan-pelan memulai tidak lagi menumpuk barang atau enggan membuang barang.

