Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali tergelincir pada perdagangan Rabu (4/3/2026), di tengah tekanan sentimen global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan Selasa (3/3/2026), rupiah melemah tipis 4 poin terhadap dolar AS ke level Rp 16.872, setelah sempat menguat 10 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 16.868. Pergerakan tersebut mencerminkan volatilitas tinggi di pasar valas domestik.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.870 hingga Rp 16.910 per dolar AS.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih dipicu oleh eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang meluas ke sejumlah wilayah Timur Tengah. Iran dilaporkan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve. Sikap agresif (hawkish) dari otoritas moneter AS dinilai berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Faktor Domestik
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$ 0,95 miliar pada Januari 2026. Surplus tersebut memperpanjang tren positif menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus Januari terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang mencatat kelebihan sebesar US$ 3,22 miliar. Meski demikian, data tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal yang mendominasi pergerakan pasar.
Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS, rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan jangka pendek, sembari pelaku pasar menanti perkembangan lanjutan dari konflik global dan arah suku bunga The Fed.

