Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (2/3/2026) diperkirakan cenderung melemah seiring memburuknya sentimen global. Pada akhir pekan lalu, IHSG sebenarnya ditutup nyaris stagnan di level 8.235,4. Namun situasi eksternal berubah cepat.
Eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Ali Khamenei meningkatkan ketidakpastian pasar. Bursa Asia diproyeksi ikut tertekan, mengikuti pelemahan indeks-indeks utama di Wall Street yang turun akibat lonjakan inflasi produsen AS.
Kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran suku bunga lebih tinggi membuat pelaku pasar cenderung mengurangi risiko (risk-off). Tekanan ini berpotensi menahan penguatan IHSG dalam jangka pendek.
Meski demikian, sejumlah sekuritas tetap merilis rekomendasi trading selektif. Mandiri Sekuritas mengunggulkan GGRM, UNVR, dan ARCI dengan rekomendasi beli. BNI Sekuritas memilih saham energi dan tambang seperti MEDC, ANTM, ITMG, serta ARCI dan HRTA untuk speculative buy. Sementara MNC Sekuritas menyarankan strategi buy on weakness pada INDY, TAPG, TLKM, dan UNVR.
Di tengah volatilitas tinggi, investor disarankan tetap disiplin pada batas risiko dan mencermati perkembangan global yang masih menjadi penggerak utama pasar.

