Jakarta (tutur.co.id) – Dalam tradisi berbuka puasa Ramadan, kurma dan kolak sama-sama menjadi primadona takjil masyarakat Indonesia. Kurma identik dengan sunnah Nabi Muhammad SAW, sementara kolak—dengan isian pisang, ubi, kolang-kaling, dan kuah santan gula merah—menjadi sajian khas Nusantara yang hampir selalu hadir di meja berbuka. Meski keduanya sama-sama manis dan berfungsi mengembalikan energi setelah seharian berpuasa, kandungan gizi dan kalorinya berbeda cukup signifikan.
Secara kalori, tiga butir kurma ukuran sedang rata-rata mengandung sekitar 60–70 kalori, tergantung jenisnya. Selain gula alami (glukosa dan fruktosa), kurma juga mengandung serat, kalium, magnesium, dan antioksidan. Karena indeks glikemiknya relatif sedang dan porsinya kecil, lonjakan gula darah cenderung lebih terkendali jika dikonsumsi secukupnya. Itulah sebabnya kurma kerap direkomendasikan sebagai pilihan awal berbuka: sederhana, praktis, dan cepat mengembalikan energi.
Sebaliknya, satu mangkuk kolak (sekitar 100-150 ml) bisa mengandung 200-300 kalori, tergantung komposisi gula dan santannya. Kandungan gula merah yang cukup tinggi serta santan yang kaya lemak jenuh membuat kolak lebih padat energi. Memang, pisang dan ubi dalam kolak menyumbang serat serta vitamin, namun tambahan gula dan santan menjadikannya lebih berat jika dikonsumsi berlebihan. Bagi mereka yang memiliki risiko diabetes, kolesterol tinggi, atau sedang menjaga berat badan, kolak perlu dinikmati dengan kontrol porsi yang ketat.
Pada akhirnya, pilihan antara kurma dan kolak bukan soal mana yang “benar” atau “salah”, melainkan soal keseimbangan. Kurma unggul sebagai pembuka puasa yang ringan dan efisien secara nutrisi, sementara kolak lebih tepat sebagai hidangan selingan dalam porsi kecil. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga melatih kendali diri—termasuk dalam memilih dan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka.
