Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka tahun 2026 dengan penguatan solid, meski bayang-bayang eskalasi geopolitik global berpotensi memicu volatilitas jangka pendek. Pada perdagangan perdana tahun ini, Jumat (2/1/2026), IHSG ditutup menguat 1,2% ke level 8.748,1, ditopang arus modal asing yang mencatatkan net buy Rp1,1 triliun di pasar reguler.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta menilai secara teknikal IHSG masih berada dalam fase uptrend. Indikator Stochastics K%D dan RSI menunjukkan sinyal positif, sementara pergerakan moving average MA20 dan MA60 mengonfirmasi penguatan tren jangka pendek hingga menengah.
“Dengan kondisi teknikal tersebut, strategi yang masih relevan adalah accumulate selected stocks with solid prospect, fokus pada saham-saham undervalued serta yang mulai menunjukkan sinyal pembalikan tren, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan dalam kajian resmi Mirae Asset Sekuritas yang diterima redaksi tutur.co,id, Senin (5/1)/
Rekomendasi saham Mirae Asset Sekuritas juga menunjukkan kinerja signifikan melampaui IHSG. Dalam periode 4 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, saham DEWA dan BRMS masing-masing melonjak 63% dan 18%, jauh di atas kenaikan IHSG yang hanya 1,6%. Minat investor asing terlihat kuat, tercermin dari aksi beli senilai Rp254 miliar pada DEWA dan Rp252 miliar pada BRMS pada perdagangan terakhir pekan lalu.
Selain itu, saham EXCL dan JPFA juga mengungguli IHSG dengan kenaikan masing-masing 34,5% dan 7%. Adapun BRPT menjadi satu-satunya saham rekomendasi yang mencatatkan koreksi 8,6% sejak awal Desember, namun Mirae Sekuritas menilai peluang rebound jangka pendek masih terbuka. Mirae juga menambahkan RMKE ke dalam daftar saham unggulan seiring potensi penguatan harga ke depan.
Dari sisi global, mayoritas bursa saham dunia turut mengawali 2026 dengan sentimen positif. S&P 500 menguat 0,2% ke level 6.858,5, sementara indeks utama Eropa seperti DAX Jerman dan FTSE Inggris masing-masing naik 0,2%. Namun, perkembangan geopolitik terbaru—terutama operasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro—diperkirakan memicu sentimen risk-off jangka pendek pada awal pekan ini.
Mirae Asset Sekuritas memperkirakan eskalasi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, emas, dan dolar AS, sekaligus memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kondisi itu dinilai akan membuat Bank Indonesia cenderung menahan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Januari 2026.
Meski demikian, dampak langsung ketegangan geopolitik tersebut terhadap Indonesia dinilai terbatas. Nilai ekspor Indonesia ke Venezuela pada periode 10M25 tercatat hanya US$68,7 juta, setara 0,03% dari total ekspor nasional, sehingga risikonya relatif kecil terhadap fundamental ekonomi domestik.
Dengan dukungan teknikal IHSG yang masih solid dan aliran dana asing yang mulai kembali masuk, Mirae Sekuritas menilai peluang akumulasi saham tetap terbuka. Namun, investor disarankan tetap selektif dan waspada terhadap volatilitas jangka pendek seiring meningkatnya ketidakpastian global.

