Jakarta (tutur.co.id) —Fenomena January Effect di pasar saham Indonesia dinilai masih berpeluang terjadi pada awal perdagangan tahun ini. Namun, sentimen global yang dipicu ketegangan geopolitik dinilai berpotensi membatasi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela yang kembali memanas menjadi faktor eksternal yang patut dicermati pelaku pasar. Situasi tersebut, menurutnya, berpotensi memengaruhi pergerakan bursa global sekaligus harga komoditas utama.
“Kami menilai January Effect masih memiliki peluang untuk terjadi. Namun, ketegangan geopolitik AS–Venezuela yang berlanjut, termasuk penangkapan yang melibatkan Presiden Venezuela, berpotensi memberikan tekanan pada pasar,” ujar Herditya kepada tutur.co.id, Senin (5/1).
Dalam praktik pasar global, ketidakpastian geopolitik memang cenderung mendorong investor global beralih ke aset aman (safe haven). Kondisi ini berpotensi mengerek harga emas dunia, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak mentah di tengah risiko gangguan pasokan energi.
Situasi geopolitik ini berpeluang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan emas global, seiring meningkatnya ketidakpastian. Herditya memperkirakan bursa global, termasuk IHSG, akan menghadapi sentimen negatif dalam jangka pendek. Meski demikian, peluang penguatan terbatas masih terbuka, terutama jika didukung oleh faktor teknikal dan minat beli selektif inv
“IHSG berpotensi tertekan oleh sentimen global tersebut, meskipun masih ada peluang penguatan yang sifatnya terbatas,” ujar Herditya.
Dalam kondisi pasar yang cenderung risk-off, Herdityo menyarankan pelaku pasar untuk mencermati saham-saham yang memiliki keterkaitan dengan emas. Emiten sektor tambang emas dinilai berpotensi mendapatkan sentimen positif seiring kenaikan harga emas dunia.
“Investor dapat mencermati emiten-emiten yang berhubungan dengan emas terlebih dahulu sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global,” tambah Herditya.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana tahun 2026, Jumat pekan lalu menguat 1,17% ke 8,748 dan masih didominasi oleh volume pembelian.

“Penguatannya pun sudah mencapai target minimal yang kami sampaikan. Kami memperkirakan adanya beberapa skenario yang memungkinkan terjadi untuk IHSG, dimana pada best case (biru), IHSG sudah menyelesaikan wave [iv] dari wave 5 sehingga IHSG berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji rentang 8,776-8,905. Namun, pada dua skenario lain (hitam dan merah), IHSG masih rawan terkoreksi dahulu,” kata Herditya.
Berikut ini area yang harus diperhatikan para pelaku pasar: Support: 8,584, 8,525 Resistance: 8,776, 8,822.
Saham Rekomendasi MNC Sekuritas: ARCI, EMAS, CMRY, GOTO

