Jakarta (tutur.co.id) — Kathryn Ruemmler, pengacara utama sekaligus General Counsel dan Chief Legal Officer di Goldman Sachs, mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis malam waktu setempat. Keputusan tersebut diambil setelah sorotan media terhadap dokumen email lama yang menunjukkan komunikasi akrabnya dengan terpidana kasus pelecehan seksual, Jeffrey Epstein.
Ruemmler dijadwalkan resmi meninggalkan jabatannya pada 30 Juni 2026. Ia merupakan penasihat hukum kunci bagi CEO Goldman Sachs, David Solomon, sejak bergabung pada 2020.
Sebut Sorotan Media Ganggu Kinerja
Dalam pernyataannya kepada Financial Times, Ruemmler menyebut perhatian media terhadap pekerjaannya di masa lalu sebagai pengacara pembela telah menjadi distraksi bagi institusi.
“Tanggung jawab saya adalah mengutamakan kepentingan Goldman Sachs. Perhatian media terkait situasi ini telah mencapai tingkat gangguan yang menyulitkan saya untuk menjalankan tugas,” ujarnya.
Ruemmler sebelumnya dikenal sebagai penasihat hukum Gedung Putih pada era Presiden Barack Obama. Di Goldman Sachs, ia dinilai berperan penting dalam manajemen risiko dan tata kelola hukum perusahaan.
CEO David Solomon menyatakan menghormati keputusan tersebut, seraya memuji profesionalisme Ruemmler selama menjabat.
Email, Hadiah Mewah, dan Kontak Darurat
Kontroversi bermula setelah Departemen Kehakiman AS merilis dokumen email dan catatan penyelidikan FBI terkait Epstein. Dalam dokumen tersebut, terungkap Ruemmler menjalin komunikasi yang dinilai terlalu akrab dengan Epstein saat masih bekerja di firma hukum Latham & Watkins pada 2014–2019.
Sejumlah poin yang menjadi sorotan media antara lain:
Hadiah mewah, termasuk tas Hermes, tas Fendi, paket spa, hingga kartu hadiah dari Bergdorf Goodman.
Sapaan personal, di mana dalam satu email Ruemmler menyebut Epstein sebagai “Uncle Jeffrey”.
Kontak pascapenangkapan, dengan catatan FBI menunjukkan Ruemmler termasuk tiga orang yang dihubungi Epstein setelah penangkapannya di New Jersey pada Juli 2019 atas tuduhan perdagangan seks anak.
Melalui juru bicaranya, Ruemmler menegaskan hubungannya dengan Epstein bersifat profesional sebagai penasihat hukum dan menyatakan tidak mengetahui tindakan kriminal kliennya saat itu. Namun, tekanan reputasi dinilai telah meluas.
Efek Domino di Dunia Korporasi
Kasus ini memperpanjang daftar tokoh elite yang terdampak asosiasi masa lalu dengan Epstein, yang meninggal bunuh diri di penjara pada 2019 sambil menunggu persidangan.
Sebelumnya, pimpinan firma hukum Paul Weiss, Brad Karp, juga dilaporkan mundur akibat isu serupa. Di Inggris, Morgan Sweeney, staf ahli Perdana Menteri Keir Starmer, turut mengundurkan diri setelah kontroversi terkait peninjauan koneksi Epstein.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya standar etika dan sensitivitas reputasi di sektor keuangan global. Di tengah era transparansi digital, relasi profesional masa lalu dengan figur bermasalah sekalipun dapat berubah menjadi risiko reputasi yang signifikan bagi korporasi besar.
Bagi Goldman Sachs, mundurnya Ruemmler menandai tantangan baru dalam menjaga kredibilitas tata kelola di tengah sorotan publik yang semakin tajam terhadap integritas para pemimpinnya.

