Jakarta (tutur.co.id) — Di tengah bayang-bayang bencana alam yang belum sepenuhnya reda, Perum Bulog memastikan ketersediaan beras di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tetap aman. Jaminan ini datang menjelang dua momentum sensitif konsumsi pangan: perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal menegaskan, cadangan beras pemerintah (CBP) di wilayah-wilayah terdampak bencana masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga 20 Januari 2026, Bulog telah menyalurkan CBP untuk penanganan bencana alam sebesar 14.435 ton di Aceh, 5.098 ton di Sumatra Utara, dan 1.069 ton di Sumatra Barat.
Angka-angka itu, menurut Rizal, mencerminkan kesiapan negara dalam memastikan logistik pangan tidak menjadi persoalan tambahan bagi warga yang tengah berjuang memulihkan hidup pascabencana. Namun, di balik klaim kecukupan stok, tantangan distribusi dan ketepatan sasaran tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Aceh dan Tradisi Meugang
Di Aceh, Bulog mencatat stok beras yang dikuasai mencapai 61.721 ton, ditopang persediaan minyak goreng sebanyak 135.668 liter. Penyaluran CBP difokuskan ke wilayah terdampak luas seperti Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur—daerah-daerah yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan ganda: bencana alam dan kenaikan kebutuhan pangan rumah tangga.
Rizal menyebut Bulog juga mengantisipasi lonjakan permintaan pangan yang berkaitan dengan Tradisi Meugang, sebuah ritual masyarakat Aceh menyambut Ramadan dengan membeli dan mengolah daging serta bahan pangan lainnya.
“Kami instruksikan untuk seluruh jajaran yang ada di kantor Aceh, ini di wilayah Aceh kami siapkan stok sebanyak-banyaknya. Jangan sampai sudah kena bencana, kesusahan juga dengan logistik,” ujar Rizal.
Pernyataan ini mencerminkan kesadaran Bulog bahwa pangan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari denyut sosial dan budaya masyarakat. Bagi warga Aceh, Meugang adalah simbol kebersamaan—dan kegagalan negara menjaga pasokan di momen itu bisa berujung pada luka sosial yang lebih dalam.
Antisipasi Imlek hingga Lebaran di Sumatra Utara
Di Sumatra Utara, total penyaluran CBP untuk penanganan bencana mencapai 5.098 ton. Sementara itu, sisa stok beras di gudang Bulog tercatat 17.425 ton, dengan cadangan minyak goreng sebesar 166.460 liter.
Rizal menegaskan kesiapsiagaan Bulog di provinsi ini tidak hanya ditujukan untuk respons bencana, tetapi juga untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat dalam rangka perayaan Imlek, Ramadan, hingga Lebaran.
“Karena di wilayah Sumatra Utara banyak Chinese-nya juga kami siapkan untuk mengantisipasi Imlek. Kemudian untuk Ramadan Bulan Suci dan untuk nanti Lebaran,” kata Rizal.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan betapa kebijakan pangan tak bisa dilepaskan dari keragaman sosial. Setiap momentum keagamaan dan budaya membawa pola konsumsi yang berbeda, yang menuntut perencanaan logistik lebih presisi—terutama di daerah dengan riwayat bencana.
Sumatra Barat: Fokus ke Wilayah Terparah
Sementara itu di Sumatra Barat, Bulog tetap menyalurkan CBP ke wilayah yang terdampak parah, seperti Pesisir Selatan dan Tanah Datar. Hingga kini, total penyaluran mencapai 1.069 ton, dengan sisa stok beras sebesar 5.627 ton.
Meski angka stok dinilai aman, tantangan di lapangan sering kali bukan soal ketersediaan semata. Akses ke daerah terdampak, kondisi infrastruktur, serta pendataan penerima bantuan kerap menentukan apakah beras di gudang benar-benar sampai ke dapur warga.
Antara Klaim Aman dan Ujian Lapangan
Jaminan Bulog soal kecukupan stok menjadi kabar menenangkan di tengah situasi rentan. Namun pengalaman krisis pangan sebelumnya menunjukkan, kecukupan di atas kertas tidak selalu sejalan dengan kenyataan di lapangan. Distribusi yang lambat, koordinasi yang tersendat, atau data yang tak mutakhir bisa membuat warga tetap kesulitan, meski gudang penuh.
Di sinilah ujian sesungguhnya bagi Bulog: bukan hanya menjaga angka stok, tetapi memastikan pangan hadir tepat waktu dan tepat sasaran—terutama bagi mereka yang sudah lebih dulu kehilangan rumah, lahan, atau mata pencaharian akibat bencana. Sebab bagi korban bencana, sekarung beras bukan sekadar bantuan, melainkan penopang harapan untuk bertahan dan bangkit kembali.

