Jakarta (tutur.co.id) — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan. Keputusan tersebut dinilai mencerminkan kepercayaan lembaga pemeringkat terhadap ketahanan fundamental fiskal Indonesia.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan penegasan status investment grade menunjukkan disiplin fiskal Indonesia masih terjaga, terutama dengan komitmen pemerintah mempertahankan defisit APBN di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Penegasan peringkat investment grade oleh S&P memberikan keyakinan bahwa kondisi fundamental Indonesia masih cukup kuat. Namun, investor juga perlu melihat bahwa tantangan ke depan tidak hanya berasal dari kondisi fiskal, tetapi juga dari tekanan eksternal dan perlambatan permintaan domestik,” ujar Rully, Kamis (16/7/2026).
Meski demikian, Mirae Asset mengingatkan investor agar tidak hanya berfokus pada peringkat kredit. Menurut Rully, tantangan terbesar saat ini justru berasal dari perlambatan ekonomi yang dipicu tekanan eksternal, pelemahan konsumsi domestik, serta kondisi pasar keuangan global yang masih bergejolak.
Ia menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% dalam beberapa tahun ke depan sebagaimana diperkirakan S&P masih tergolong optimistis. Menurutnya, kenaikan suku bunga yang agresif, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta melambatnya permintaan domestik berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus fiskal diperkirakan tetap terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN sesuai batas maksimal 3% dari PDB.
Berbeda dengan S&P yang mempertahankan outlook stabil, Rully mencatat Fitch Ratings dan Moody’s masih menempatkan Indonesia dalam outlook negatif karena mempertimbangkan ketidakpastian kebijakan serta risiko terhadap fiskal dan sektor eksternal.
Menghadapi kondisi tersebut, Mirae Asset tetap mengedepankan strategi investasi defensif dengan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas sehat, dan mampu menjaga profitabilitas di tengah tingginya volatilitas pasar.
Rully merekomendasikan saham BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai pilihan utama karena dinilai memiliki ketahanan bisnis yang relatif baik untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Sementara itu, Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menilai pasar keuangan global masih dibayangi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar US$83 per barel berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Menurut Jessica, lonjakan harga minyak juga dapat memicu kenaikan inflasi global sehingga memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga higher for longer, yang pada akhirnya menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan.
Meski demikian, ia menilai keputusan S&P mempertahankan peringkat investment grade Indonesia tetap menjadi katalis positif bagi pasar obligasi. Status tersebut diyakini dapat mendukung minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), terutama pada tenor pendek hingga menengah, selama tensi geopolitik tidak mengalami eskalasi signifikan.

