Atlanta (Tutur.co.id) – Timnas Inggris harus mengubur mimpi meraih gelar Piala Dunia 2026 setelah takluk 1-2 dari Argentina pada laga semifinal di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Sempat unggul lebih dulu lewat Anthony Gordon, The Three Lions justru gagal mempertahankan keunggulan dan akhirnya dipaksa menyerah setelah gol Enzo Fernández dan Lautaro Martínez membalikkan keadaan.
Kekalahan ini memang tak lepas dari kecemerlangan Lionel Messi yang mencatatkan dua assist. Namun, jika ditelaah lebih dalam, tersingkirnya Inggris juga dipengaruhi oleh sejumlah kesalahan yang mereka lakukan sendiri. Mulai dari pendekatan taktik Thomas Tuchel hingga ketergantungan terhadap dua pemain bintang, semuanya menjadi faktor yang membuat Argentina sukses melaju ke final.
1. Thomas Tuchel Gagal Memutus Kutukan Inggris
Kedatangan Thomas Tuchel sebenarnya diharapkan menjadi jawaban atas kegagalan Inggris dalam meraih trofi internasional selama enam dekade terakhir.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menunjuk pelatih asal Jerman itu karena reputasinya sebagai spesialis turnamen sistem gugur, terutama setelah sukses membawa Chelsea menjuarai Liga Champions.
Harapannya sederhana, Tuchel mampu membawa Inggris melangkah lebih jauh dibanding era Gareth Southgate yang beberapa kali nyaris juara, termasuk menjadi runner-up Euro 2020 dan Euro 2024 serta mencapai semifinal Piala Dunia 2018.
Namun, kenyataannya tidak banyak berubah. Sepanjang Piala Dunia 2026, Inggris memang mampu mengatasi lawan-lawan yang secara peringkat berada di bawah mereka. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan tim elite dunia seperti Argentina, kelemahan lama kembali terlihat.
Ironisnya, Argentina menjadi tim pertama dari jajaran 10 besar ranking FIFA yang dihadapi Inggris sepanjang turnamen, dan hasilnya kembali berakhir dengan kekalahan. Pola yang sama terus berulang dalam perjalanan The Three Lions di Piala Dunia selama hampir tiga dekade terakhir.
2. Strategi Bertahan Tuchel Jadi Bumerang
Kesalahan terbesar Inggris terjadi setelah mereka unggul lebih dahulu melalui gol Anthony Gordon. Alih-alih terus menekan, Tuchel memilih mengubah pendekatan permainan menjadi jauh lebih defensif.
Pelatih berusia 52 tahun itu memasukkan Ezri Konsa sekitar menit ke-70 untuk memperkuat lini belakang dan mengubah formasi menjadi lima bek. Keputusan tersebut membuat Inggris memilih bertahan sangat dalam demi mengamankan keunggulan tipis. Strategi itu justru menjadi titik balik pertandingan.
Sejak gol Gordon hingga Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan, Inggris hanya mampu menguasai bola sekitar 12 persen. Argentina pun leluasa mengontrol permainan, sementara Lionel Messi memperoleh ruang yang jauh lebih besar untuk mengatur serangan.
Hasilnya langsung terlihat. Messi menciptakan assist untuk gol penyeimbang Enzo Fernández, lalu kembali menjadi kreator saat Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan pada masa injury time.
Yang membuat keputusan Tuchel semakin dipertanyakan adalah Inggris sebenarnya masih mampu bersaing sebelum memilih bertahan total. Namun setelah “memarkir bus”, mereka kehilangan keseimbangan antara bertahan dan menyerang.
Pergantian pemain ofensif seperti Ivan Toney dan Marcus Rashford baru dilakukan pada menit-menit akhir ketika Argentina sudah unggul. Upaya tersebut datang terlambat dan tidak lagi mampu mengubah jalannya pertandingan.
3. Terlalu Bergantung pada Jude Bellingham dan Harry Kane
Masalah lain yang terlihat sepanjang Piala Dunia 2026 adalah ketergantungan Inggris terhadap Jude Bellingham dan Harry Kane.
Dari total 14 gol yang dicetak Inggris sepanjang turnamen, hampir semuanya berasal dari kontribusi dua pemain tersebut. Namun, Argentina berhasil menemukan cara untuk mematikan keduanya.
Sepanjang semifinal, baik Bellingham maupun Kane tidak mampu memberikan ancaman berarti di kotak penalti lawan. Bellingham tampil di bawah performa terbaiknya setelah terus mendapat tekanan fisik dari Leandro Paredes dan para gelandang Argentina.
Gelandang Real Madrid itu hanya memenangkan enam dari 13 duel di darat, gagal memenangkan duel udara, serta hanya mencatatkan satu tekel sepanjang pertandingan. Statistik tersebut jauh dari standar permainan agresif yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Sementara itu, Harry Kane memang beberapa kali turun ke lini tengah untuk membantu membangun serangan, termasuk mengawali proses gol Anthony Gordon melalui umpan kepada Morgan Rogers.
Namun, sebagai penyerang utama, Kane hanya mampu melepaskan satu tembakan sepanjang pertandingan.
Minimnya kontribusi dua pemain kunci tersebut membuat Inggris kehilangan kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Ketika Bellingham dan Kane berhasil diredam Argentina, hampir tidak ada pemain lain yang mampu mengambil alih peran sebagai pembeda.
Kekalahan yang Sulit Dihindari
Pada akhirnya, keberhasilan Argentina melaju ke final memang dipengaruhi kualitas individu Lionel Messi dan efektivitas lini serang mereka. Namun, kekalahan Inggris juga lahir dari keputusan-keputusan yang kurang tepat.
Pendekatan bertahan yang terlalu cepat, minimnya variasi serangan, serta ketergantungan terhadap Jude Bellingham dan Harry Kane membuat The Three Lions kehilangan kendali pada momen-momen krusial.

