Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih melanjutkan tren positif pada perdagangan Kamis (16/7/2026). BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan indeks bergerak pada kisaran 6.000-6.100, dengan peluang menguji level 6.130 selama mampu bertahan di atas area support psikologis 6.000.
Sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar. Investor akan mencermati melambatnya inflasi produsen Amerika Serikat setelah Producer Price Index (PPI) turun 0,3% secara bulanan (month-to-month/MoM) dan melambat menjadi 5,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kondisi ini mengindikasikan tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda.
Meski demikian, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan perekonomian Amerika Serikat masih berada dalam kondisi solid. Bank sentral AS juga tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target, sehingga arah kebijakan suku bunga diperkirakan masih akan berlangsung secara hati-hati.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga akan memantau perkembangan konflik Amerika Serikat-Iran serta implementasi kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) yang dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan sejumlah saham.
“Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tren bullish jangka pendek selama bertahan di atas support 6.000. Momentum penguatan didukung pola higher low dan indikator MACD yang masih bergerak positif,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya.
Optimisme tersebut juga didukung penguatan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones naik 0,29%, S&P 500 menguat 0,36%, sedangkan Nasdaq bertambah 0,62%.
Sejalan dengan prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham yang layak dicermati pada perdagangan hari ini, yakni:
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp8.600-Rp8.850.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dengan target harga Rp1.655-Rp1.690.
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dengan target harga Rp111-Rp116.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat tipis 0,04% atau 2,45 poin ke level 6.041. Namun, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp153,03 miliar.
Aksi jual terbesar asing terjadi pada saham TLKM senilai Rp112 miliar, disusul BRMS sebesar Rp93,22 miliar, serta ASII mencapai Rp71,74 miliar.
Meski dibayangi aksi jual investor asing, penguatan IHSG ditopang oleh menguatnya nilai tukar rupiah serta kenaikan sejumlah sektor utama. Sektor material dasar memimpin dengan kenaikan 0,76%, diikuti properti 0,57%, konsumer primer 0,49%, transportasi 0,40%, dan infrastruktur 0,21%.
Di jajaran saham, empat emiten berhasil menyentuh Auto Reject Atas (ARA), yakni INAI yang melonjak 34,59% menjadi Rp179, RANS naik 24,77% menjadi Rp272, PRDL menguat 24,71% menjadi Rp424, dan AGAR bertambah 24,62% menjadi Rp324.
Selain itu, penguatan signifikan juga dicatat GDST yang melesat 23,17% ke Rp101 serta ALKA yang naik 21,78% menjadi Rp615.
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai kondusif, tren teknikal yang masih positif, dan dukungan sejumlah sektor domestik, IHSG berpeluang mempertahankan penguatan. Namun, investor tetap disarankan mencermati dinamika kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta arus dana asing yang masih menunjukkan kecenderungan keluar dari pasar saham Indonesia.

