Jakarta (tutur.co.id) – Mirae Asset Sekuritas Indonesia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,0% dan di bawah target pemerintah yang mencapai 5,4%. Perlambatan permintaan domestik, ketidakpastian ekonomi global, serta kebijakan moneter yang semakin ketat menjadi alasan utama di balik revisi tersebut.
Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2027 juga diturunkan menjadi 4,9% dari sebelumnya 5,1%.
“Kami merevisi turun proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027. Revisi ini mencerminkan melemahnya permintaan domestik, lingkungan eksternal yang semakin kurang mendukung, serta kondisi keuangan yang lebih ketat,” kata Rully dalam laporan Macro Outlook: Macroeconomic Outlook Revision – Tight Rates Without Clear Macro Anchor yang dikutip Kamis (9/7/2026).
Revisi tersebut muncul di tengah perubahan lanskap ekonomi global. Jika sebelumnya pasar memperkirakan bank sentral utama dunia mulai memasuki siklus pelonggaran moneter, kini arah kebijakan justru berbalik. Mirae Asset memperkirakan Federal Reserve masih akan menaikkan Fed Funds Rate sebanyak dua kali, masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026, sebagai respons terhadap kembali meningkatnya tekanan inflasi.
Selain mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), The Fed juga diperkirakan terus melanjutkan normalisasi neraca atau balance sheet, yang akan menyerap likuiditas dolar AS dari pasar keuangan global.
Menurut Rully, kombinasi suku bunga tinggi dan pengetatan likuiditas global akan mempersempit aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap berada di bawah tekanan, sementara pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat.
Di dalam negeri, Bank Indonesia dinilai menghadapi dilema yang semakin kompleks. Di satu sisi, bank sentral perlu menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter yang ketat. Namun di sisi lain, aktivitas ekonomi domestik mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Rully mencatat kenaikan suku bunga acuan BI hingga 100 basis poin dalam beberapa waktu terakhir belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.
“Dengan nilai tukar yang masih kesulitan menguat, ruang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut semakin terbatas, tepat ketika berbagai indikator domestik mulai menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih nyata,” ujarnya.
Tekanan juga datang dari memburuknya ruang kebijakan makro. Munculnya defisit kembar (twin deficits), baik pada fiskal maupun neraca eksternal, dinilai mempersempit peluang pemerintah memberikan stimulus yang lebih agresif. Di saat bersamaan, pelemahan konsumsi rumah tangga dan investasi membuat daya tahan ekonomi terhadap pengetatan moneter semakin berkurang.
Mirae Asset juga menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Menurut Rully, langkah BI menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga dan intervensi pasar belum sepenuhnya diimbangi sinyal kebijakan fiskal yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
“Belum adanya koordinasi yang kuat dan kredibel antara kebijakan moneter dan fiskal membuat investor masih meragukan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan. Akibatnya, premi risiko tetap tinggi dan sentimen pasar masih cenderung berhati-hati,” katanya.
Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada triwulan I-2026. Pada periode tersebut, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp3.447,7 triliun.

