Jakarta (tutur.co.id) — Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal diramaikan gelombang penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sepanjang Juli 2026. Banyaknya emiten baru yang melantai di bursa membuat investor dihadapkan pada beragam pilihan. Namun, analis mengingatkan agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada harga saham yang terlihat murah.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan setiap emiten yang melaksanakan IPO memiliki karakteristik, prospek, dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor tidak bisa menyamaratakan seluruh saham IPO hanya karena sama-sama baru tercatat di bursa.
“Kesalahan terbesar investor adalah menilai IPO hanya dari nominal harga sahamnya,” kata Hendra, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, saham yang ditawarkan pada harga Rp100 belum tentu lebih murah dibandingkan saham seharga Rp1.000 apabila kemampuan menghasilkan laba, tingkat pengembalian modal, prospek industri, hingga kualitas manajemen perusahaan berbeda jauh.
“Yang seharusnya dibeli investor bukan sekadar harga saham, melainkan kualitas bisnis di balik harga tersebut,” tegasnya.
Hendra menilai kondisi pasar saat ini masih diwarnai tantangan berupa menurunnya likuiditas perdagangan, belum pulihnya arus dana asing secara penuh, serta tingginya ketidakpastian ekonomi global. Situasi tersebut membuat kualitas emiten yang melakukan IPO pada tahun ini semakin beragam.
Karena itu, investor perlu mencermati fundamental perusahaan, bukan sekadar tergiur harga penawaran perdana atau potensi kenaikan harga pada hari pertama perdagangan.
Sepanjang Juli 2026, sedikitnya enam perusahaan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia, yakni PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT ESA Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL).
Hendra menilai masing-masing perusahaan menawarkan peluang investasi sekaligus tingkat risiko yang berbeda.
Sebagai contoh, PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang dikenal melalui merek Inaco memiliki kekuatan pada merek dagang dan jaringan distribusi yang luas. Namun, dalam tiga tahun terakhir, pendapatan perseroan justru menurun dari sekitar Rp839 miliar menjadi Rp753 miliar.
Di sisi lain, laba bersih JELI meningkat dari sekitar Rp2 miliar menjadi Rp39 miliar. Menurut Hendra, kenaikan tersebut lebih banyak ditopang oleh efisiensi biaya dibandingkan pertumbuhan penjualan.
“Artinya, investor yang membeli saham JELI pada valuasi sekitar 31 kali laba sedang membayar premi terhadap efisiensi, bukan terhadap pertumbuhan,” jelasnya.

