Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru, didorong meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Mengutip laporan CNBC, Selasa (20/1/2026), kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari 2026 dibuka melonjak 1,71% ke level US$4.674 per troy ons pada perdagangan Senin (19/1). Capaian tersebut melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang tercatat pekan lalu di kisaran US$4.643 per troy ons.
Sejalan dengan itu, harga emas spot turut menguat 1,6% ke posisi US$4.668 per troy ons.
Kenaikan harga emas dipicu oleh meningkatnya ketegangan perdagangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penambahan tarif impor terhadap delapan negara mitra dagang di Eropa. Kebijakan tersebut disampaikan bersamaan dengan pernyataan kontroversial terkait dorongan pengambilalihan wilayah Greenland.
Trump menyatakan tarif dagang akan dinaikkan sebesar 10% mulai 1 Februari 2026 dan berpotensi meningkat hingga 25% pada 1 Juni 2026 apabila tidak tercapai kesepakatan. Menanggapi hal itu, negara-negara Eropa dilaporkan tengah mempertimbangkan penerapan tarif balasan serta langkah-langkah penanggulangan ekonomi yang lebih luas.
Dari sisi fundamental, prospek harga emas dinilai masih solid. Manajer portofolio sumber daya alam Ninety One, George Cheveley, menilai reli harga emas saat ini ditopang oleh faktor struktural jangka menengah hingga panjang.
“Reli emas sangat kuat, tetapi juga didasarkan pada fundamental yang masih sangat kuat. Dengan suku bunga riil yang kemungkinan akan turun dan bank sentral terus mendiversifikasi cadangan mereka,” ujar Cheveley dalam laporannya.
Ia menambahkan, risiko koreksi tajam pada harga emas relatif terbatas. “Kami melihat lebih banyak alasan bagi emas untuk terkonsolidasi atau naik sedikit daripada mengalami penurunan tajam,” ujarnya.
Ninety One memproyeksikan harga emas berpotensi meningkat hingga empat sampai lima kali lipat dibandingkan level tahun 2024, seiring berlanjutnya ketidakpastian global, kebijakan moneter longgar, serta meningkatnya akumulasi emas oleh bank sentral dunia.

