Jakarta (tutur.co.id) — Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai fundamental ekspor Indonesia masih tetap kuat meski ekspor nonmigas pada Mei 2026 mengalami kontraksi 4,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Menurut Yusuf, pelemahan tersebut lebih dipicu penurunan pada sejumlah komoditas tertentu dan belum mencerminkan pelemahan menyeluruh pada kinerja ekspor nasional.
“Kalau kita bedah kontraksi ekspor nonmigas sebesar 4,5 persen pada Mei 2026, sumber tekanannya sebenarnya cukup terkonsentrasi dan bukan pelemahan yang terjadi di hampir semua komoditas,” kata Yusuf kepada Antara di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai 23,2 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama disebabkan melemahnya ekspor nonmigas yang tercatat sebesar 22,45 miliar dolar AS atau turun 4,5 persen secara tahunan.
Padahal pada April 2026, nilai ekspor Indonesia masih mencapai 25,30 miliar dolar AS atau tumbuh 21,98 persen.
Secara komoditas, penurunan ekspor nonmigas terbesar berasal dari kelompok logam mulia, perhiasan, dan permata yang anjlok 59,35 persen. Komoditas tersebut menyumbang andil negatif sekitar 2,93 persen terhadap kinerja ekspor nonmigas.
Selain itu, ekspor bijih logam, terak, dan abu merosot 99,25 persen, sedangkan ekspor besi dan baja turun 14,68 persen.
Yusuf menjelaskan, anjloknya ekspor bijih logam merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mentah sebagai bagian dari program hilirisasi.
“Jadi ini lebih merupakan konsekuensi kebijakan daripada sinyal melemahnya daya saing ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, penurunan ekspor logam mulia dipengaruhi normalisasi harga emas setelah reli yang sangat tinggi pada tahun lalu, sehingga menciptakan efek basis perbandingan (high base effect).
Adapun pelemahan ekspor besi dan baja masih berkaitan dengan belum pulihnya permintaan dari China, terutama akibat lesunya sektor properti dan konstruksi di negara tersebut.
Yusuf juga menilai tarif resiprokal Amerika Serikat sebesar 19 persen mulai memberi tekanan terhadap ekspor Indonesia. Namun, dampaknya sejauh ini lebih banyak dirasakan industri tekstil, alas kaki, dan elektronik sehingga belum menjadi faktor utama di balik kontraksi ekspor nonmigas pada Mei.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Yusuf menegaskan fundamental ekspor Indonesia masih terjaga. Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor nonmigas secara kumulatif masih tumbuh 3,89 persen menjadi 110,19 miliar dolar AS.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan ekspor produk-produk bernilai tambah hasil hilirisasi. Ekspor produk olahan nikel melonjak lebih dari 61 persen, ekspor minyak sawit mentah (CPO) tumbuh sekitar 8,6 persen, sedangkan ekspor kimia dasar anorganik meningkat lebih dari 84 persen.
“Ini menunjukkan hilirisasi mulai menghasilkan nilai tambah yang mampu meredam tekanan dari pelemahan beberapa komoditas utama. Karena itu, kontraksi pada satu bulan sebaiknya tidak langsung dibaca sebagai tanda bahwa ekspor Indonesia sedang memasuki fase pelemahan yang lebih luas,” kata Yusuf.

