Jakarta (tutur.co.id) — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian optimistis neraca perdagangan Indonesia akan kembali mencatatkan surplus pada bulan-bulan mendatang seiring tren penurunan harga minyak mentah dunia yang diperkirakan mampu menekan defisit perdagangan minyak dan gas (migas).
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 lebih banyak dipicu lonjakan impor migas akibat tingginya harga minyak dunia dalam beberapa bulan sebelumnya.
“Ke depan mudah-mudahan harga minyak terus turun sehingga defisit migas mulai berkurang. Dengan begitu, perhitungan kami pada bulan-bulan berikutnya neraca perdagangan seharusnya bisa kembali surplus,” ujar Susiwijono di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit tersebut berasal dari neraca perdagangan migas yang tercatat minus 3,76 miliar dolar AS, sementara neraca perdagangan nonmigas masih membukukan surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS.
Defisit Mei 2026 menjadi yang pertama sejak April 2020, sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Susiwijono menjelaskan, penurunan harga minyak dunia diperkirakan mulai memberikan dampak terhadap kinerja impor dalam beberapa bulan ke depan.
Harga minyak mentah yang sempat mencapai 103,91 dolar AS per barel pada April 2026 turun menjadi 100,43 dolar AS pada Mei, kemudian kembali merosot menjadi 82,82 dolar AS pada Juni 2026.
“Impor yang tercatat pada Juni masih mencerminkan harga minyak pada bulan sebelumnya yang masih sangat tinggi. Karena itu, defisit migas menjadi jauh lebih besar dibandingkan surplus nonmigas,” jelasnya.
Senada dengan pemerintah, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman menilai defisit neraca perdagangan Mei 2026 bersifat sementara dan terutama dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia, bukan mencerminkan perubahan tren perdagangan Indonesia.
Menurut Faisal, penurunan harga minyak yang terjadi pada Juni diperkirakan akan mengurangi tekanan terhadap impor migas sehingga neraca perdagangan berpotensi kembali mencatatkan surplus.
“Kami memperkirakan Indonesia akan kembali mencatat surplus perdagangan, meskipun dengan tren yang terus menyempit. Sejalan dengan prospek tersebut, kami mempertahankan proyeksi bahwa defisit transaksi berjalan akan melebar pada tahun ini,” ujar Faisal.
Meski demikian, ia memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan semakin mengecil sepanjang 2026. Hal itu disebabkan pertumbuhan impor diperkirakan lebih tinggi dibandingkan ekspor seiring kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga permintaan domestik.
Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diproyeksikan kembali normal setelah adanya percepatan pengiriman (front loading) pada tahun lalu menjelang pemberlakuan tarif resiprokal yang lebih tinggi. Selain itu, lemahnya permintaan global, terutama dari China, diperkirakan masih akan membebani kinerja ekspor Indonesia.
Faisal juga mengingatkan bahwa meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, ketidakpastian akibat perang dagang global masih menjadi risiko yang dapat mengganggu rantai pasok internasional dan membatasi pertumbuhan perdagangan dunia.
“Walaupun kondisi geopolitik di Timur Tengah menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir, kami menilai situasi tersebut masih rapuh. Di sisi lain, ketidakpastian perang dagang global masih membayangi prospek ekonomi sehingga aktivitas perdagangan dunia dan permintaan eksternal diperkirakan tetap terbatas,” katanya.

