Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026), kehilangan 217,4 poin atau 3,5% dan ditutup di level 5.883,8. Koreksi tersebut menyeret IHSG keluar dari zona psikologis 6.000 dengan posisi terendah harian menyentuh level 5.876,9.
Pelemahan tajam ini terjadi di tengah respons negatif pelaku pasar terhadap hasil MSCI 2026 Market Classification Review yang meskipun tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, namun memperpanjang masa pemantauan hingga November 2026.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG menunjukkan sinyal pelemahan lanjutan setelah menembus level psikologis penting 6.000. Indikator histogram MACD masih berada di area positif, tetapi terus menipis, sementara stochastic RSI membentuk death cross di area overbought.
“IHSG berpotensi menguji level 5.750 pada perdagangan Kamis (25/6/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Menurut Phintraco, pasar merespons negatif keputusan MSCI yang masih mempertahankan status Emerging Market Indonesia, tetapi tetap memberikan peringatan terkait efektivitas dan konsistensi reformasi pasar modal yang sedang dijalankan regulator.
MSCI menyatakan akan terus memantau perkembangan reformasi hingga peninjauan indeks berikutnya pada November 2026. Jika dinilai belum terdapat kemajuan yang memadai, lembaga penyedia indeks global tersebut membuka kemungkinan mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk konsultasi terkait potensi reklasifikasi Indonesia ke kategori Frontier Market.
Ketidakpastian tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu aksi jual di pasar saham domestik, terutama di tengah minimnya katalis positif yang mampu mengangkat sentimen investor.
Senada dengan itu, BRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan terhadap IHSG berasal dari kekhawatiran pasar atas sejumlah catatan MSCI terkait transparansi kepemilikan saham, validitas free float, serta indikasi coordinated trading di pasar modal Indonesia.
Selain faktor MSCI, aksi profit taking pada sejumlah saham berkapitalisasi besar turut memperburuk pelemahan indeks. Saham-saham seperti BBRI, BMRI, AMMN, BRMS, dan SMMA tercatat menjadi kontributor utama penekan pergerakan IHSG sepanjang perdagangan.
Tekanan juga datang dari pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah ditutup melemah 93 poin ke level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat, kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang masih solid. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
Di sisi domestik, perpanjangan masa evaluasi MSCI hingga November 2026 dinilai memperpanjang ketidakpastian pasar. Investor asing masih cenderung berhati-hati karena reformasi pasar modal Indonesia dianggap belum sepenuhnya mampu memulihkan kepercayaan investor global maupun membalikkan arus keluar modal asing.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat. Data tersebut menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter The Fed dan berpotensi menentukan pergerakan dolar AS serta sentimen pasar keuangan global dalam jangka pendek.
Dengan kombinasi tekanan eksternal, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berada dalam fase volatil pada perdagangan selanjutnya.

