Semua lapisan masyarakat mulai dari mahasiswa, aktivis, akademsi hingga rakyat biasa turun ke jalan untuk menggelar aksi di berbagai wilayah Indonesia. Remuknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga kenaikan ‘senyap’ harga BBM menjadi pemicu aksi turun ke jalan dalam beberapa hari terakhir.
Forum Cik Di Tiro yang dikenal sebagai wadah konsolidasi masyarakat sipil non-partisan di Yogyakarta ikut bergerak dengan ikut mengepung Gejayan pada Sabtu kemarin 13 Juni 2026. Berikut petikan wawancara lengkap redaksi tutur.co.id dengan inisiator Forum Cik Di Tiro, Prof. Dr. rer. soc Masduki, S.Ag., M.Si.
Q: Apa yang alasan atau latar belakang pecahnya aksi demo di berbagai wilayah kemarin?
A: Yang pertama, ada manipulasi atau bencana informasi yang dikembangkan terutama oleh Sekretaris Kabinet. Kita melihat itu membuat Prabowo Subianto sepertinya melihat Indonesia baik-baik saja. Di sini ada namanya disinformasi yang dikelola oleh istana itu. Nah, gitu.
Yang kedua, itu berkaitan dengan denial. Denial itu apa ya istilahnya? Seperti tidak merasa apa yang disampaikan publik itu harus ditindaklanjuti. Jadi punya kebenaran sendiri. Prabowo cenderung denial terhadap berbagai aspirasi, tapi lebih hanya menerima aspirasi dari para
pembantunya. Gitu.
Karena denial, sehingga kita melihat sepertinya tidak ada sense of emergency. Misalnya begini, ini rupiah kan terus mengalami tekanan, ya kan, dolar naik. Ini kan akan menimbulkan banyak sekali komplikasi kehidupan ekonomi di masyarakat, tapi ini dianggap bahwa fondasi ekonomi kita masih bagus, kan gitu. Itu Prabowo bilang orang desa tidak pakai dolar, nah itu kan seakan-akan
menegasi situasi yang sesungguhnya sedang terjadi. Dan BBM tiba-tiba naik, nah ini kan berarti kan ada sesuatu nih yang selama ini disembunyikan, akhirnya mulai tampak bahwa ada kepanikan sehingga BBM naik. Gitu loh. Jadi akhirnya ya satu-satunya cara kita bersuara di jalan, kita suarakan ke dalam bentuk aksi publik. Nah, itu alasannya.
Q: Prof sempat menyinggung ormas dan beberapa kampus yang katanya sudah ‘dibeli’, maksudnya?
A: Ya, itu betul. Jadi sesuai dengan apa kondisi yang kita lihat dalam dua-tiga tahun terakhir. Di era akhir Jokowi, ya. Pada waktu Jokowi mau lengser itu kan para ormas, bahkan juga perguruan tinggi ini ditawari konsesi tambang. Dan dua ormas, NU-Muhammadiyah menerima. Ketika mereka menerima, maka mereka sudah sudah sulit untuk bersikap kritis.
Jadi itu ormas seperti itu karena ormas kita masih belum seperti lembaga yang otonom, sebagai organisasi masyarakat sipil, nggak, tapi ya organisasi sosial biasa saja gitu yang butuh bantuan pemerintah. Terus perguruan tinggi juga sama, masih membutuhkan subsidi pemerintah sehingga belakangan banyak yang….(suara terputus sesaat)
Sekarang tinggal kekuatan moral yang ada di anak-anak muda, khususnya mahasiswa itu yang bisa, apa namanya, masih bertahan. Saya ingin memotivasi teman-teman yang kemarin hadir itu, yang
umumnya kan mahasiswa itu. karena mereka yang sekarang tinggal mereka yang bisa punya moralitas yang tinggi untuk menyuarakan ini.
Q: Terkait tuntutan ada sekitar 10, nah menurut Prof tuntutan apa sih yang paling urgent harus segera dieksekusi pemerintah?
A: Pertama ya perbaikan ekonomi.Perbaikan ekonomi itu artinya kan ini BBM harus segera dikendalikan, terus juga apa, high cost economy gitu ya, ekonomi biaya tinggi kayak MBG, Koperasi Merah Putih itu harus ditinjau ulang itu. Jadi terus juga Prabowo berhenti berkeliling berkunjung ke berbagai negara karena itu tidak menunjukkan hasil apa-apa gitu.
Itu sih yang utama itu orang perbaikan ekonomi. Jadi orang bisa kemudian harga BBM itu menjadi murah kembali dan juga buruh gajinya meningkat. Dan salah satu caranya adalah mengurangi pemborosan proyek-proyek yang sebetulnya dikorupsi kayak MBG itu. Kalau yang lain ya tentu
perlindungan dan pembukaan akses kebebasan berekspresi dan aktivitas berdemokrasi. Itu penting sekali.Para aktivis ini tidak boleh dikriminalisasi dan sebagainya.”
Q: Bagaimana tanggapan sebagian orang yang justru menilai kehadiran Koperasi Merah Putih, MBG, dan program-program prioritas Presiden lain ini dinilai cukup penting dan bermanfaat?
A: Sebetulnya kalau MBG itu kalau memang itu penting kan tidak harus untuk semua anak. Itu kan bisa hanya tadi, daerah 3T atau yang kelompok miskin saja. Yang kedua, problemnya kan MBG ini
mekanisme penyelenggaraannya. Itu kan harusnya bisa melalui kelompok masyarakat di sekolah-sekolah gitu loh, bukan dikerjakan oleh TNI-Polri, bukan dikerjakan oleh para orang-orang Gerindra. Nah, ini udah keliru ini. Di situ pelaksanaannya yang keliru. Kemudian sama, Koperasi Merah Putih itu kan keliru. Lah itu kan koperasi harusnya dari masyarakat inisiatifnya, bukan dari atas, bukan dari pemerintah. Jadi koperasi abal-abal sebetulnya, karena hanya dibikin di berbagai desa oleh pemerintah. Nah, itu kan keliru.
Q: Soal isu-isu reformasi jilid 2 bagaimana tanggapan?
A: Itu nanti akan muncul dengan sendirinya kalua ini situasi tidak membaik, kan gitu. Itu bukan sesuatu yang harus digagas atau dikampanyekan. Itu otomatis nanti akan muncul. Itu otomatis akan muncul kalau BBM naik terus, terus juga proyek-proyek ini tidak dikaji ulang. Kabinetnya masih gemuk seperti sekarang. Ya ini akumulasi, nanti pada saatnya memang akan akan tiba itu. Gitu kalau saya melihatnya.
Q: Bagaimana profesor membaca kemungkinan ke depan termasuk demo lanjutan yang akan terus terjadi?
A: Itu akan ada lagi, saya dengar di UGM hari Senin itu, tanggal berapa ya? Senin tuh tanggal 15 ya. Nah, itu akan ada itu. Ya akan ada lagi. Jadi ini akan berlanjut ini. Ya tanggal 15 akan ada aksi di Psikologi UGM itu, saya terinfo itu.
Q: Terakhir nih Prof, respon seperti apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dalam hal ini Presiden terkait maraknya aksi demo ini?
A: Ya sederhana, pemerintah atau Presiden harus mau berdialog langsung dengan para mahasiswa, ya. Mungkin tidak di istana tapi datang ke kampus, berdialog gitu. Habis itu dialognya ditindaklanjuti, jangan cuma ditanggapi. Jangan cuma dibilang apa gitu, ‘Kamu tidak tahu, saya lebih tahu.’ Lah itu kan arogansi.
Intinya itu saja kan sebetulnya ini soal bagaimana menindaklanjuti ini semua. Jadi kalau cuma dialog-dialog juga yang gak berguna. Nah, itu. Itu sebenarnya yang ditunggu, tindak lanjutnya.

