Yogyakarta (tutur.co.id) – Dalam beberapa hari terakhir, beberapa wilayah Indonesia diwarnai aksi demo, termasuk di Yogyakarta. Mahasiswa, aktivis, hingga berbagai kalangan masyarakat turun ke jalan menyuarakan aspirasinya. Lalu apa yang melatarbelakangi aksi ini?
Menurut inisiator Forum Cik Di Tiro, Prof Masduki, aksi demo di beberapa wilayah Indonesia itu terjadi karena memang kondisi bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Paling tidak ada dua alasan sehingga rakyat perlu turun ke jalan.
“Yang pertama, ada manipulasi atau bencana informasi yang dikembangkan terutama oleh Sekretaris Kabinet. Kita melihat itu membuat Prabowo Subianto sepertinya melihat Indonesia baik-baik saja. Di sini ada namanya disinformasi yang dikelola oleh istana itu. Nah, gitu,” kata Masduki kepada redaksi, Minggu 14 Juni 2026.
Yang kedua, lanjut Masduki, itu berkaitan dengan denial atau penolakan dari Presiden Prabowo. Maksudnya disini, setiap aspirasi dari publik dipandang presiden tak perlu ditindaklanjuti.
“Jadi merasa punya kebenaran sendiri. Presiden Prabowo cenderung denial terhadap berbagai aspirasi rakyat dan lebih memilih mendengarkan aspirasi dari para pembantunya,” ujarnya.
Lebih lanjut Masduki mengatakan, karena denial inilah yang membuat Prabowo seakan tidak punya sense of emergency. Ia mencontohkan, terkait rupiah yang terus mengalami tekanan, dolar naik, yang tentu akan menimbulkan komplikasi kehidupan ekonomi masyarakat, tapi dianggap bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih bagus.
“Itu Prabowo bilang orang desa tidak pakai Dollar, nah itu kan seakan-akan menegasi situasi yang sesungguhnya sedang terjadi. Dan BBM tiba-tiba naik, nah ini kan berarti kan ada sesuatu nih yang selama ini disembunyikan, akhirnya mulai tampak bahwa ada kepanikan sehingga BBM naik. Gitu loh,” kata Masduki.
Karena mampetnya informasi dan sikap denial inilah yang dianggap Masduki satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah turun ke jalan.

