Jakarta (tutur.co.id) — Perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, perempuan tidak hanya menjadi penjaga budaya dan ketahanan keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi motor utama ekonomi restoratif yang mampu menjawab berbagai tantangan sosial dan ekonomi di daerah tersebut.
Semangat itulah yang diangkat melalui pameran “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” yang berlangsung di Tugu Kunstkring, Jakarta, pada 13-27 Juni 2026.
Pameran ini tidak hanya menampilkan kekayaan budaya NTT melalui tenun tradisional, kuliner khas, serta rumah adat, tetapi juga menjadi ruang dialog dan kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan. Berbagai kegiatan seperti diskusi, workshop, dan forum jejaring diselenggarakan untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan perempuan sebagai pelaku utama ekonomi restoratif.
Selama penyelenggaraan pameran, Dialog Kunstkring yang diinisiasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Penabulu-Oxfam menghadirkan para pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, komunitas adat, hingga organisasi masyarakat sipil. Diskusi tersebut difokuskan pada penyusunan peta jalan bersama terkait kedaulatan pangan, pariwisata berkesadaran, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan ekonomi restoratif di Indonesia, khususnya NTT.
Pembukaan pameran dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, serta Ketua Dekranasda NTT Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Asti Laka Lena.
Asti Laka Lena mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun NTT melalui pemberdayaan perempuan. Menurutnya, pendidikan, pelatihan keterampilan, serta perluasan akses terhadap berbagai layanan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan di daerah tersebut.
“Saya menggunakan peran saya saat ini untuk membangun NTT. Saya ajak kita semua: Ayo Bangun NTT!” ujar Asti.
Ia menilai berbagai keterbatasan yang masih dihadapi perempuan NTT, terutama dalam aspek pendidikan dan akses ekonomi, harus diatasi secara bersama-sama. Salah satu pendekatan yang efektif adalah melalui penguatan budaya lokal seperti wastra, kuliner, seni, dan berbagai produk kreatif yang menjadi identitas masyarakat NTT.
Menurut Asti, upaya membuka akses dan mendekatkan layanan kepada masyarakat membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi non-pemerintah (NGO), program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR/TJSL), hingga komunitas diaspora NTT di berbagai daerah.
Pendiri Yayasan Uma Nusantara sekaligus inisiator pameran Weaving Wonders, Yori Antar, mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, investor, donor, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan ekonomi restoratif di Indonesia masih menghadapi dua tantangan utama, yakni keterbatasan investasi dan dukungan kebijakan yang belum optimal. Mengacu pada kajian Center of Economic and Law Studies (Celios) tahun 2024, Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp892 triliun hingga 2045 agar strategi ekonomi restoratif dapat diterapkan secara efektif di berbagai sektor.
Karena itu, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, sektor swasta, perusahaan sosial, organisasi komunitas, investor, lembaga donor, dan organisasi filantropi untuk mempercepat implementasi program-program pembangunan berkelanjutan.
NTT menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki potensi besar sekaligus tantangan yang kompleks dalam pembangunan ekonomi restoratif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, tingkat kemiskinan di NTT masih mencapai 17,5%. Selain itu, prevalensi stunting masih berada di angka 31,4%, jauh di atas rata-rata nasional.
Persoalan lain yang masih menjadi perhatian adalah tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia (human trafficking), serta berbagai kerentanan sosial yang sebagian besar berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menegaskan bahwa berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan secara terpisah.
“Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” kata Veronica.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perempuan NTT justru menunjukkan kontribusi ekonomi yang sangat signifikan. Berdasarkan Survei GoodStats 2024, perempuan di NTT menyumbang sekitar 42,4% pendapatan rumah tangga, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 36,1%.
Kontribusi tersebut terlihat dalam berbagai inisiatif ekonomi restoratif seperti program agroforestri bambu atau Mama Bambu serta Kebun Pangan Perempuan (KPP). Program-program tersebut tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Veronica Tan, Kebun Pangan Perempuan menjadi strategi penting dalam memperkuat posisi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat desa.
“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” ujarnya.
Dukungan terhadap peran perempuan juga semakin nyata setelah pemerintah menyerahkan Surat Keputusan Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT pada Mei 2026. Total lahan yang dikelola mencapai 648 hektare.
Langkah tersebut menjadi terobosan penting karena perempuan kini mendapat hak lebih besar dalam mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan. Tidak hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem dan pelestarian lingkungan hidup.
Pameran Weaving Wonders turut mendapat dukungan dari sejumlah mitra swasta, termasuk Grup Astra yang menampilkan karya-karya dari Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra.
Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menegaskan bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat merupakan aset penting dalam pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi yang semakin luas antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas lokal, perempuan NTT diharapkan dapat memainkan peran yang lebih besar sebagai penggerak ekonomi restoratif, sekaligus menjadi fondasi penting bagi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan di kawasan timur Indonesia.

