Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Jumat (12/6/2026), meskipun tekanan dari sentimen global masih berpotensi memicu volatilitas pasar. Setelah reli kuat dalam beberapa hari sebelumnya, pasar saat ini memasuki fase konsolidasi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), IHSG ditutup melemah 16,34 poin atau 0,28% ke level 5.886,03. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 265 saham menguat, 419 saham melemah, dan 131 saham bergerak stagnan.
Technical Analyst RHB Sekuritas Indonesia Ilham Fitriadi Budiarto menilai koreksi yang terjadi lebih banyak dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah pasar mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan reaksi yang relatif wajar setelah reli tajam yang mendorong investor merealisasikan keuntungan jangka pendek.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyoroti meningkatnya tekanan eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar. Salah satu faktor utama adalah kenaikan inflasi Amerika Serikat pada Mei 2026 menjadi 4,2% secara tahunan (year on year/YoY), lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 3,8%.
Kenaikan inflasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.
“Hal ini meningkatkan kekhawatiran investor akan sikap hawkish The Fed untuk menahan suku bunga acuannya (higher for longer),” ujar Herditya.
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga kembali menjadi perhatian pasar. Meningkatnya konflik di kawasan tersebut mendorong harga minyak mentah dunia bergerak naik, sekaligus menambah ketidakpastian bagi pasar keuangan global.
Sentimen tersebut menyebabkan mayoritas bursa global dan regional Asia bergerak di zona merah pada perdagangan sebelumnya. Di dalam negeri, tekanan juga diperkuat oleh aksi profit taking setelah IHSG membukukan penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut.
Meski demikian, para analis masih melihat peluang penguatan terbatas bagi IHSG pada perdagangan hari ini. Ilham memproyeksikan indeks bergerak dalam rentang support 5.746 dan resistance 6.000.
Sementara Herditya memperkirakan IHSG akan bergerak pada area support 5.841 dan resistance 5.925. Investor juga diperkirakan akan mencermati rilis data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat serta perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah sebagai penentu arah pasar berikutnya.
Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, sektor energi menjadi salah satu sektor yang dinilai menarik untuk diperhatikan. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan sentimen positif bagi sejumlah emiten energi nasional.
RHB Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham Adaro Andalan Indonesia (AADI) dengan target harga terdekat Rp8.475 per saham dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) dengan target harga Rp23.275 per saham.
Sementara itu, MNC Sekuritas merekomendasikan saham Medco Energi Internasional (MEDC) dengan target harga Rp1.290-Rp1.390 per saham. Selain itu, investor juga dapat mencermati Perusahaan Gas Negara (PGAS) dengan target Rp1.570-Rp1.635 serta Samudera Indonesia (SMDR) dengan target harga Rp286-Rp296 per saham.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang masih menekan dan peluang dari sektor energi yang mendapat dukungan kenaikan harga komoditas, investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham. Manajemen risiko dan disiplin terhadap target keuntungan maupun batas kerugian menjadi kunci di tengah potensi volatilitas pasar yang masih tinggi dalam jangka pendek.

