Jakarta (Tutur.co.id) – Arsenal datang ke final Liga Champions 2025/2026 bukan hanya sebagai penantang, tetapi sebagai tim yang memiliki cukup alasan untuk membuat Paris Saint-Germain pulang tanpa trofi. Di bawah arahan Mikel Arteta, The Gunners menjelma menjadi salah satu tim paling lengkap di Eropa musim ini, dengan keseimbangan antara pertahanan kokoh, lini tengah agresif, dan serangan yang efektif.
Jelang duel di Puskás Aréna, Budapest, Sabtu (30/5), setidaknya ada tiga kekuatan utama Arsenal yang dinilai bisa menjadi mimpi buruk bagi PSG.
Bukayo Saka, Ancaman Utama dari Sisi Sayap
Nama pertama yang menjadi sorotan adalah Bukayo Saka. Winger tim nasional Inggris itu kembali menunjukkan peran sentral dalam permainan Arsenal musim ini.
Kecepatan, kemampuan duel satu lawan satu, serta ketajamannya dalam situasi krusial membuat Saka menjadi salah satu pemain paling berbahaya yang dimiliki Arteta. Ia bahkan menjadi penentu kelolosan Arsenal ke final setelah mencetak gol kemenangan saat menghadapi Atletico Madrid pada leg kedua semifinal.
Kemampuan Saka mengeksploitasi ruang di belakang garis pertahanan lawan diperkirakan akan menjadi salah satu senjata utama Arsenal untuk menghadapi permainan agresif PSG.
Declan Rice, Mesin Tempur di Jantung Permainan
Jika Saka menjadi ancaman di depan, maka Declan Rice adalah sosok yang menjaga keseimbangan permainan Arsenal.
Gelandang berusia 27 tahun itu tampil luar biasa sepanjang musim dan menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan Arsenal menjuarai Liga Inggris. Rice tidak hanya kuat dalam bertahan, tetapi juga mampu membantu transisi serangan dengan cepat.
Reuters menyebut Rice sebagai figur kunci dalam struktur permainan Arteta berkat energi, kepemimpinan, dan kemampuan membaca permainan. Perannya diperkirakan sangat penting untuk meredam kreativitas lini tengah PSG yang dihuni pemain-pemain seperti Vitinha dan Joao Neves.
“Rice akan memainkan peran penting dalam menghentikan kombinasi lini tengah PSG sekaligus membantu Arsenal melakukan transisi cepat ke serangan,” tulis Goal Verdict dalam ulasannya menjelang final.
Martin Odegaard, Otak Kreatif yang Menentukan Tempo
Senjata ketiga Arsenal adalah sang kapten, Martin Odegaard. Pemain asal Norwegia itu tetap menjadi pusat kreativitas permainan The Gunners berkat visi bermain, akurasi umpan, dan kemampuannya membuka ruang.
Odegaard berperan besar dalam mengatur ritme serangan Arsenal sepanjang musim. Dalam pertandingan besar, kemampuannya menemukan celah di antara lini lawan sering menjadi pembeda.
“Kapten Arsenal tetap menjadi jantung kreativitas dalam sistem Arteta,” tulis Goal Verdict saat membahas kekuatan Arsenal menjelang final.
Pergerakan Odegaard di belakang lini depan diperkirakan akan menjadi salah satu aspek yang paling diwaspadai PSG, terutama ketika Arsenal membangun serangan melalui kombinasi cepat bersama Saka dan para pemain depan lainnya.
Arsenal Datang Bukan Sekadar Menjadi Finalis
Kekuatan Arsenal musim ini tidak hanya terletak pada individu, tetapi juga pada kolektivitas tim yang dibangun Arteta selama beberapa tahun terakhir. The Gunners memasuki final dengan catatan impresif, termasuk keberhasilan mengakhiri penantian 22 tahun untuk meraih gelar Liga Inggris.
Selain memiliki lini belakang yang solid dengan duet William Saliba dan Gabriel Magalhaes, Arsenal juga dikenal sebagai salah satu tim paling berbahaya dalam situasi bola mati. Bahkan, 25 gol mereka di Liga Inggris musim ini lahir dari skema set piece.
PSG memang datang dengan status juara bertahan dan kekuatan lini serang yang dihuni Ousmane Dembele serta Khvicha Kvaratskhelia. Namun Arsenal memiliki senjata yang cukup untuk menggagalkan ambisi klub Prancis tersebut mempertahankan mahkota Eropa.
Bagi Arsenal, laga ini bukan sekadar final. Ini adalah kesempatan untuk menghapus trauma kekalahan pada final 2006 sekaligus membuktikan bahwa proyek panjang Arteta telah membawa mereka kembali ke level tertinggi sepak bola Eropa.

