Jakarta (tutur.co.id) — Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama bank sentral Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan harga yang dinilai masih terlalu tinggi.
Berbicara dalam konferensi Bank of Japan-IMES pada Kamis (28/5/2026), Kashkari mengatakan Federal Reserve System atau The Fed akan tetap menjalankan pendekatan yang seimbang dalam menjalankan mandat gandanya, yakni menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung penciptaan lapangan kerja maksimal.
Meski demikian, ia menilai tekanan inflasi saat ini masih menjadi perhatian terbesar karena laju kenaikan harga di AS telah bertahan di atas target 2% selama lebih dari lima tahun terakhir.
“Fokus utama saya sangat tertuju pada inflasi. Saya sama sekali tidak mengabaikan pasar tenaga kerja. Kami harus memperhatikan keduanya, tetapi saat ini pasar tenaga kerja berada dalam kondisi yang layak, sementara inflasi jelas masih terlalu tinggi,” ujar Kashkari.
Menurut dia, semakin lama inflasi bertahan di level tinggi, semakin besar pula risiko ekspektasi inflasi masyarakat bergeser secara permanen ke level yang lebih tinggi atau unanchored.
“Jika hal itu sampai terjadi, kami terpaksa harus bertindak jauh lebih agresif. Oleh karena itu, jauh lebih baik bagi kami untuk melakukan apa pun yang diperlukan saat ini demi menjaga ekspektasi inflasi tetap stabil,” katanya.
Data terbaru menunjukkan inflasi utama AS pada April 2026 berada di level 3,8%, sementara inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan.
Kashkari menilai tekanan inflasi global dipicu berbagai faktor eksternal, mulai dari dampak pandemi Covid-19, kebijakan tarif perdagangan, perang di Ukraina, hingga konflik geopolitik terbaru di Iran.
Ia menambahkan lonjakan harga energi dan pupuk kini menjadi faktor utama yang mendorong tekanan harga lebih luas di berbagai sektor ekonomi.
“Komoditas input tersebut berdampak pada sektor-sektor lainnya. Jadi, salah satu hal yang akan terus saya pantau adalah kapan harga energi ini mulai memengaruhi perekonomian dan inflasi secara lebih luas,” ujarnya.
Pernyataan Kashkari mempertegas sinyal bahwa The Fed masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Sejak 2024 hingga pertengahan 2026, bank sentral AS telah menaikkan suku bunga agresif ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade untuk menekan inflasi pascapandemi.
Kebijakan moneter ketat tersebut memang membantu mendinginkan tekanan harga, namun di sisi lain meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dan tekanan terhadap pasar tenaga kerja.
Meski demikian, kuatnya pasar tenaga kerja AS sejauh ini dinilai memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target 2%.
Sikap hawkish The Fed tersebut juga berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama melalui penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi global, dan potensi arus keluar modal asing dari pasar domestik.

