Jakarta (tutur.co.id) — Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkap alasan di balik keputusan bank sentral menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25%. Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang semakin kuat.
Keputusan kenaikan BI Rate itu ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19–20 Mei 2026. Menurut Destry, kebijakan tersebut tidak terlepas dari kondisi global ketika banyak bank sentral dunia, terutama Federal Reserve, masih mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer.
“Higher for longer sekarang situasinya. Jadi, bond yield-nya Amerika juga naik, inflasi di sana juga naik, kemudian juga DXY-nya atau nilai tukar Amerika juga naik terhadap hampir semua currency,” ujar Destry dalam acara Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (26/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS telah memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Karena itu, stabilitas nilai tukar dinilai menjadi prioritas utama bank sentral saat ini.
Untuk menjaga rupiah, BI telah menempuh berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar spot, transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN), hingga menaikkan suku bunga acuan.
“Kita mau semuanya itu clear, bahwa memang ada demand dolar tapi untuk kebutuhan. Jadi, untuk apakah impor, apakah untuk bayar utang, tapi bukan untuk di-keep saja. Nah, ini kan kita tidak mau,” kata Destry.
Menurut dia, kenaikan BI Rate juga bertujuan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan berbasis rupiah agar kembali kompetitif di mata investor global. Dengan begitu, arus modal asing atau capital inflow diharapkan kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
“Kita naikkan suku bunga karena kita merasa masih kurang. Jadi, ini harus kita dorong dengan naikkan suku bunga, karena kita harus membuat instrumen rupiah kita itu menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali masuk ke, paling tidak ke pasar keuangan kita dulu,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, BI menilai stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mengendalikan risiko gejolak pasar keuangan.

