Jakarta (tutur.co.id) — Lonjakan harga minyak terjadi setelah AS membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran dan memberikan dukungan pada demonstran di tengah krisis nasional.
Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (13/1/2026), menandai salah satu gejolak pasar energi terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah drastis: membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan mengumumkan bantuan bagi para demonstran yang tengah menentang pemerintah.
Mengutip data perdagangan, Rabu (14/1/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,65 atau 2,77%, berada pada level US$ 61,15 per barel. Sementara Brent menanjak US$ 1,60 atau 2,51%, menjadi US$ 65,47 per barel. Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa ketegangan politik di Iran akan berdampak pada pasokan minyak global.
Krisis dalam Negeri Iran
Situasi di Iran saat ini sangat mencekam. Demonstrasi besar-besaran menentang pemerintah telah menewaskan ratusan orang, menurut laporan media internasional. Akses internet nasional diputus, membatasi arus informasi dan komunikasi. Pasukan keamanan Iran menindak para pengunjuk rasa dengan kekerasan yang menuai kecaman internasional.
Amerika Serikat merespons dengan tegas. Trump berkali-kali memperingatkan pemerintah Iran bahwa jika tindakan represif berlanjut, intervensi bisa dilakukan. Lewat akun media sosialnya, Trump menyerukan dukungan langsung kepada para demonstran:
“Patriot Iran, teruslah berdemo. Ambil alih institusi kalian! Simpan nama-nama para pembunuh dan penyiksa tersebut,” tulisnya.
“Mereka akan membayar harga yang mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini berhenti. Bantuan segera datang!”
Langkah ini menegaskan tekanan politik AS terhadap Iran, sekaligus menimbulkan ketidakpastian tambahan bagi pasar minyak global.
Iran dan Pasokan Minyak Dunia
Iran adalah anggota OPEC dan salah satu produsen minyak mentah utama dunia. Ketidakstabilan politik dan sosial di negara ini selalu berdampak pada harga minyak global. Para analis pasar kini menyoroti dua risiko utama: kemungkinan gangguan produksi dan kesulitan logistik ekspor.
Seorang analis energi di Singapura menjelaskan, “Ketika Iran menghadapi krisis internal, bahkan gangguan kecil pada infrastruktur atau jalur ekspor dapat memicu volatilitas harga yang signifikan. Investor saat ini sedang memantau setiap perkembangan dengan sangat ketat.”
Lonjakan harga minyak, meski relatif sementara, mencerminkan reaksi pasar terhadap risiko geopolitik. Kenaikan WTI dan Brent menunjukkan bahwa pasar mulai menilai potensi ketidakstabilan pasokan minyak sebagai faktor utama dalam perhitungan harga global.
Dampak Potensial ke Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak memiliki efek domino: biaya energi meningkat, inflasi bisa terdorong, dan sektor transportasi serta industri manufaktur merasakan dampaknya secara langsung. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak berisiko menghadapi tekanan ekonomi lebih besar, sementara eksportir mungkin meraup keuntungan jangka pendek.
Di sisi lain, analis menekankan bahwa solusi diplomatik tetap menjadi kunci. “Pasar minyak bisa stabil jika ketegangan mereda dan jalur komunikasi internasional dibuka kembali. Saat ini, setiap langkah AS dan Iran akan sangat diperhatikan,” ujar pengamat geopolitik energi di London.
Antara Politik dan Pasar
Krisis Iran kali ini menyoroti bagaimana politik dan gejolak sosial dapat berdampak langsung pada ekonomi global. Dari jalanan Teheran hingga bursa minyak internasional, setiap aksi dan keputusan pemerintahan berimbas pada harga yang kita bayar di pom bensin.
Dalam jangka pendek, pasar akan terus fluktuatif. Namun, bagi para pelaku industri dan pemerintah, pelajaran yang tersisa adalah jelas: stabilitas geopolitik bukan hanya soal diplomasi, tapi juga faktor vital dalam menjaga ketahanan energi dunia.

