Paris (Tutur.co.id) – Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron dalam rapat Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Prancis yang membahas situasi konflik di Iran dan sekitarnya. Ia menegaskan posisi negaranya yang tidak menjadi bagian dari konflik tersebut.
“Kami bukan pihak yang terlibat konflik tersebut. Oleh karena itu, Prancis tak akan pernah terlibat dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam kondisi saat ini,” ujar Macron.
Pernyataan ini sekaligus merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat yang sebelumnya mengajak sejumlah negara, termasuk Prancis, untuk ikut menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Macron juga menilai bahwa pendekatan militer bukan solusi yang tepat dalam situasi saat ini. Ia menekankan bahwa upaya penyelesaian konflik seharusnya dilakukan melalui jalur diplomasi dan deeskalasi.
Selain itu, Prancis memilih untuk tetap mengambil posisi independen dalam menyikapi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Pemerintah Prancis menyatakan tidak akan terlibat dalam operasi militer yang dilakukan oleh pihak lain di kawasan tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah rangkaian konflik sejak akhir Februari 2026 yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian direspons oleh Iran dengan serangan balasan. Situasi ini berdampak pada terganggunya jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Meski menolak keterlibatan militer, Prancis tetap membuka kemungkinan berperan dalam menjaga keamanan pelayaran setelah situasi mereda, termasuk melalui kerja sama internasional yang bersifat non-konfrontatif.

