Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih terbatas pada perdagangan Rabu (29/4/2026), dengan kecenderungan melemah di kisaran 7.000–7.160. Level 7.000 kembali menjadi area krusial yang akan menentukan arah pasar selanjutnya.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG berpotensi menguji area gap di level psikologis tersebut. “Selama mampu bertahan di atas 7.000 dan terjadi technical rebound, peluang penguatan ke 7.160–7.230 masih terbuka,” tulis risetnya.
Sentimen pasar masih didominasi faktor eksternal, terutama perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang memengaruhi harga minyak global, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Di sisi lain, tekanan juga datang dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut, khususnya pada saham perbankan.
Pergerakan pasar global turut membebani IHSG. Bursa Wall Street ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones turun tipis, diikuti S&P 500 dan Nasdaq yang juga terkoreksi.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,48% ke level 7.072. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,34 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari transaksi negosiasi saham BSDE.
Pelemahan indeks sejalan dengan koreksi mayoritas bursa Asia dan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, DSSA, TPIA, hingga ADRO. Sejumlah sektor juga tertekan, mulai dari material dasar, teknologi, hingga infrastruktur, meski sektor keuangan dan properti masih mencatat penguatan terbatas.
Meski IHSG melemah, peluang cuan tetap terbuka. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham untuk trading jangka pendek, yakni MBMA dengan target Rp735–780, PADA di kisaran Rp224–242, serta BNBR dengan target Rp224–232.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham justru melesat hingga menyentuh auto rejection atas (ARA), mencerminkan masih adanya minat spekulatif di kalangan investor.
Dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif, pelaku pasar disarankan mencermati level 7.000 sebagai penentu arah jangka pendek IHSG, sekaligus menjaga disiplin dalam manajemen risiko.

