Jakarta (tutur.co.id) – Earbuds kini mengalami perubahan besar yang mungkin tidak disadari banyak orang. Perangkat yang dulu hanya digunakan untuk mendengarkan musik, kini mulai berkembang menjadi alat pemantau kesehatan yang super canggih.
Data dari International Data Corporation menunjukkan bahwa pengiriman earwear mencapai 84,9 juta unit pada kuartal kedua 2025, atau lebih dari 60% dari total wearable global. Angka ini membuktikan bahwa earbuds punya potensi besar untuk menjadi pusat teknologi kesehatan personal.
Perkembangan ini bukan sekadar tren pasar, tapi juga didukung oleh riset ilmiah. Studi yang dipublikasikan melalui PubMed Central menemukan bahwa earbuds dengan sensor khusus mampu mengukur detak jantung, kalori, hingga VO₂max dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Bahkan, hasil pengukurannya hampir setara dengan alat medis seperti ECG dalam kondisi tertentu. Hal ini membuka peluang besar bagi earbuds untuk menggantikan perangkat fitness tracker konvensional.
Teknologi yang digunakan dalam earbuds pun semakin canggih. Sensor seperti photoplethysmography (PPG) memungkinkan perangkat membaca aliran darah langsung dari telinga pengguna. Ditambah dengan accelerometer, earbuds bisa memahami aktivitas fisik secara real-time. Kombinasi ini membuat data kesehatan yang dihasilkan menjadi lebih akurat dan relevan untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, validasi dari jurnal ilmiah lain juga memperkuat potensi ini. Penelitian yang diterbitkan di Nature menunjukkan bahwa earbuds mampu memantau detak jantung secara konsisten saat melakukan aktivitas fisik. Ini menandakan bahwa perangkat audio tersebut sudah mulai masuk kategori wearable kesehatan ringan. Dengan kata lain, earbuds tidak lagi sekadar pelengkap gaya hidup, tetapi mulai berperan dalam pemantauan kondisi tubuh.
Menariknya, telinga ternyata menjadi lokasi ideal untuk pengukuran biometrik. Menurut kajian di Frontiers in Physiology, area telinga dekat dengan pembuluh darah utama dan relatif stabil saat bergerak. Hal ini membuat hasil pengukuran menjadi lebih akurat dibandingkan beberapa perangkat lain seperti smartwatch. Ditambah lagi, kebiasaan pengguna yang memakai earbuds dalam waktu lama membuat proses monitoring bisa berlangsung secara kontinu.
Di sisi industri, perusahaan teknologi besar mulai memanfaatkan peluang ini. Samsung telah menghadirkan earbuds dengan fitur pemantauan detak jantung dan stres. Sementara Apple terus mengembangkan AirPods dengan kemampuan berbasis AI yang membuka potensi biometrik lebih luas. Bahkan, peneliti dari Google menemukan bahwa mikrofon ANC dapat digunakan untuk mendeteksi detak jantung tanpa sensor tambahan.
Dengan kombinasi antara riset ilmiah dan inovasi industri, earbuds kini berada di jalur untuk menjadi perangkat kesehatan masa depan. Dari pemantauan kebugaran hingga deteksi dini kondisi tubuh, fungsinya terus berkembang melampaui ekspektasi. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin earbuds akan menjadi perangkat utama dalam ekosistem kesehatan digital. Dunia wearable sedang berubah, dan earbuds ada di garis depan perubahan tersebut.

